Sabtu, 19 Februari 2011
SURAT PERTAMA DAN KEDUA PAULUS UNTUK TIMOTIUS
Di dalam kedua surat yang dialamatkan kepada Timotius ini, Paulus menekankan pentingnya Kitab Suci dalam penyembahan atau ibadah kepada Allah maupun untuk kehidupan yang berkenan kepadaNya. Kemudian dalam surat ini Paulus pula menekankan tentang syarat-syarat penting atau kualifikasi para penatua dan diaken yaitu antara lain agar mereka terdidik dalam soal-soal pokok iman kita ...dan ajaran yang sesuai dengan ibadah kita (I Timotius 4:6; 6:3).
Di dalam suratnya yang pertama ini Paulus menegaskan: Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (I Timotius 2:5).
Paulus menasihatkan atau mendorong Timotius agar tetap setia kepada Kristus dan firmanNya.
Menjelang kematiannya, Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius yang juga merupakan suratnya yang terakhir yang ditulisnya ketika ia berada di penjara di Roma (II Timotius 4:6-7).
Paulus kembali mendorong Timotius yang dikasihinya agar menjadi kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus (II Timotius 2:1).
Kemudian ia melanjutkan : Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya yang demikian ia berkenan kepada komandannya (II Timotius 2:4).
Paulus mengingatkan bahwa kegagalan dalam memepelajari seluruh isi Kitab Suci dengan saksama akan mengakibatkan kita akan menjadi malu menghadap Tuhan (II Timotius 2:15).
Hanyalah Firman Allah yang dapat memberikan hikmat untuk mengenal dan melakukan kehendak Allah (II Timotius 3:15)
Memahami Firman Allah akan menghindari kita dari kesesatan yang diakibatkan oleh mencampuradukkan kebenaran dan kekeliruan.
Paulus menekankan tentang kecukupan Kitab Suci dalam memberikan jawaban-jawaban terhadap setiap permasalahan kehidupan manusia.
RENUNGKAN TENTANG HAL INI.
Dari jutaan kitab yang ada di dunia ini, Alkitab merupakan satu-satunya kitab yang diilhamkan Allah yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (dalam kekudusan hidup, dalam penyesuaian dengan kehendak Allah dalam pikiran, maksud dan tindakan).
Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (benar-benar dipersiapkan untuk menjadi orang sebagaimana dimaksudkan Allah dan benar-benar diperlengkapi untuk melaksanakan maksud Ia menciptakan kita) (II Timotius 3:16-17).
Namun Paulus juga mengingatkan bahwa banyak orang akan lebih ingin menyenangkan manusia dari pada kehilangan popularitas mereka.
Karena itu Paulus menasihatkan Timotius agar setia memberitakan firman (II Timotius 4:1-4).
SURAT PAULUS KEPADA TITUS
Paulus telah meninggalkan Titus di pulau Kreta, dan surat ini dikirimkan kepadanya dengan maksud memberi pejunjuk supaya ia dapat mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya ia menetapkan penatua-penatua di setiap kota (Titus 1:5).
Kemudian Roh Kudus melalui Paulus mengemukakan tentang syarat-syarat bagi seorang penatua (pelayan Injil).
Syarat-syarat khusus bagi para pemimpin rohani harus dituruti secara saksama.
Sekarang ini sebagaimana pada abad pertama, sikap mengabaikan satu syarat akan membawa konsekuensi yang dahsyat bagi mereka atau jemaat yang mengabaikannya.
Surat kepada Titus ini menekankan agar para pemimpin gereja ini harus tidak bercacat cela dan tetap setia kepada firman Tuhan (Titus 1:6-9).
Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang yang mengaku diri guru-guru tetapi sebenarnya adalah penyesat-penyesat yang mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik (Titus 1:16).
Paulus memberikan petunjuk bahwa lelaki yang lebih tua harus mengajar yang lebih muda dan mengajar mereka untuk meninggalkan ambisi-ambisi yang jahat dan keinginan-keinginan duniawi dan hidup untuk memuliakan Allah sementara menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan dirinya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan (Titus 2:13-14).
Nasihat ini diikuti dengan peringatan bahwa kehidupan kekal itu tidak diperoleh melalui perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita (Titus 3:5-7).
SURAT PAULUS KEPADA FILEMON
Paulus menulis surat ini kepada Filemon yang mungkin adalah seorang Kristen yang berpengaruh di Kolose dan juga adalah petobat yang dimenangkan oleh Paulus dalam pelayanannya.
Onesimus seorang budak milik Filemon bertobat juga di bawah pelayanan Paulus dan rupanya ia telah melarikan diri dari rumah Filemon lalu bertemu dengan Paulus.
Oleh karena Onesimus adalah orang Kristen maka ia setuju untuk kembali kepada majikannya di Kolose itu.
Karena itu surat yang indah ini bermaksud mendorong Filemon agar menerima kembali Onesimus bukan sebagai seorang budak yang telah melarikan diri melainkan sebagai saudara yang dikasihi dalam Tuhan sama seperti sikap yang diperlihatkannya dalam menerima Paulus (Filemon 1:16-17).
Pokok pikiran utama dalam surat ini adalah bahwa Kristus telah menciptakan semua manusia sama dan semuanya indah di hadapan Dia. Karena itu semua orang baik kaya atau miskin, kuat atau lemah harus mendapatkan penghargaan yang sama dan perlakuan yang sama.
Surat ini memberikan gambaran yang nyata tentang kebenaran dalam Galatia 3:28 bahwa di dalam Kristus tidak ada hamba atau orang merdeka.
Ada sebelas ayat berbicara mengenai Tuhan Yesus di dalam surat yang singkat ini.
SURAT ORANG IBRANI
Telah lazim dipercayai bahwa Paulus menulis surat ini sementara ia tinggal di rumah sewaan di Roma (Kisah 28:30), kira-kira 10 tahun sebelum kehancuran Yerusalem oleh Titus, panglima tentara Romawi pada tahun 70 Masehi.
Namun penulis yang sebenarnya dari setiap kitab dalam Alkitab ini adalah Roh Kudus yang telah mengilhamkan firmanNya kepada manusia. Surat Ibrani berisi 29 kutipan langsung dan 53 kutipan tak langsung dari Perjanjian Lama.
Keunggulan Kristus merupakan pokok utama dari ke lima pasal yang pertama dari surat Ibrani ini. Allah .....pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. ....jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, nabi-nabi, imam-imam, Musa dan Taurat: Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar tentang Dia dan firmanNya (Ibrani 1:1-2,4; 2:1; Lihat Ibrani 3:3; 7:21-27).
Penulis Ibrani sangat menjunjung tinggi firman yang tidak mengandung kesalahan: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibrani 4:12).
Istilah lebih baik merupakan salah satu kata kunci dalam surat Ibrani. Surat ini mengemukakan perbedaan tuntutan-tuntutan Perjanjian Lama dengan berkat-berkat dalam Perjanjian Baru dan hubungan orang percaya dengan Kristus.
Kita memiliki pengharapan yang lebih baik (Ibrani 7: 19)
perjanjian yang lebih mulia (Ibrani 8: 6)
janji yang lebih tinggi (Ibrani 8:6).
Kesepuluh hukum terukir pada loh-loh batu namun perjanjian Kristus terukir dalam hati kita (Ibrani 8:10) dan sebagai orang percaya kita memiliki jaminan harta yang lebih baik (Ibrani 10:34).
Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya (Ibrani 10:35).
Bagi orang Israel, untuk menyembah Allah menurut Perjanjian Lama diperlukan darah dari hewan atau binatang yang tak bercacat yang dipersembahkan setiap hari bagi dosa karena kelalaian karena ketidaksengajaan mereka (Imamat 4:1-3). Namun tidak ada korban bagi dosa yang dilakukan secara sengaja (Bilangan 15:30).
Prinsip mendasar ini tetap berlaku pula sampai pada masa kini di bawah Perjanjian Baru.
Jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.
Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman (Ibrani 10:26-27; bandingkan Roma 6:1-2).
Perjanjian Baru hanya menuntut satu korban persembahan saja yaitu Anak Domba Allah yang sempurna (Wahyu 5:6,12; 13:8).
Hal ini sangat berbeda dengan Perjanjian Lama yang terus menerus menuntut pengorbanan binatang. Darah Kristus sendiri di atas tutup pendamaian telah menyucikan kita dari segala dosa-dosa kita (Ibrani 9:12; 10:1-29).
Sebagaimana dinyatakan pula dalam Perjanjian Lama:
Tetapi orang yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang beroleh hidup (Ibrani 10:38-39; bandingkan Habakuk 2:4).
Jumat, 18 Februari 2011
SURAT YAKOBUS
Penulis surat ini memperkenalkan dirinya sebagai Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Yakobus 1:1).
Setelah kelahiran Yesus dari seorang perawan, Maria melahirkan anak-anak lain dengan Yusuf sebagai suaminya. Salah satu dari anak-anaknya ini bernama Yakobus (Matius 13: 55; Markus 6:3). Ia tidak termasuk salah satu dari kedua belas rasul (Matius 10:2-4),
namun kemudian disebutkan sebagai penatua yang pertama memimpin gereja di Yerusalem (Kisah 12:17).
Paulus menyebutnya sebagai Yakobus, saudara Tuhan Yesus (Galatia 1:19).
Para utusan yang datang dari jemaat Yerusalem ke Antiokhia disebut datang dari kalangan Yakobus (Galatia 2:12);
dan Paulus melaporkan kepada Yakobus secara terperinci tentang apa yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain oleh pelayanannya (Kisah 21:18-19).
Dalam surat ini, Yakobus sering mengutip Perjanjian Lama untuk menguatkan beritanya.
Kemudian ia menerapkan isi Kitab Suci Perjanjian Lama kepada kehidupan Kristen (Yakobus 2:8,23; 4:5).
Tema dari Surat Yakobus bukan hanya menguraikan tentang iman dan perbuatan, melainkan bahwa iman yang sejati itu harus nyata dalam tindakan.
Surat ini mengemukakan beberapa ujian praktis dalam mengenal kesejatian iman kita.
Yakobus menasihatkan orang-orang percaya agar menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yakobus 1:27).
Juga Yakobus menegaskan bahwa pencobaan-pencobaan itu sebenarnya adalah ujian-ujian yang membeberkan iman yang palsu yang bertujuan pula untuk menumbuhkembangkan kedewasaan orang percaya (Yakobus 1:2-4).
Untuk melukiskan ketidaksetiaan kepada Kritus, Yakobus menjelaskan orang-orang yang tidak setia itu seperti orang-orang berzinah (yang melanggar janji mereka kepada Allah).
Persahabatan dengan dunia menjadikan mereka sebagai musuh Allah (Yakobus 4:4).
Yakobus mengingatkan bahwa kita menjadi anak-anak Allah secara rohani melalui Firman kebenaran .... yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Namun ketika kita telah diselamatkan, kita dinasihatkan untuk membuktikan iman kita melalui tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan kita, dan menjadi pelaku-pelaku Firman, bukannya pendengar-pendengar saja (Yakobus 1:18,21-23).
Yakobus menasihatkan orang-orang Kristen untuk berdoa dengan tekun, dan di dalam suratnya ini ia menjelaskan tentang kuasa doa yang besar itu dengan mengingatkan kita mengenai Elia yang adalah manusia biasa sama seperti kita (Yakobus 1:5-8; 5:13-18), yang memiliki iman yang teguh bahwa Allah dapat dan akan menjawab doanya.
AWAL SURAT YAKOBUS
SURAT PERTAMA DAN KEDUA PETRUS
Ketika menulis kedua surat ini, Petrus mentaati dan melaksanakan dua perintah khusus yang diberikan kepadanya oleh Yesus sendiri -- yakni untuk menguatkan saudara-saudaramu (Lukas 22:32) dan menggembalakan domba-dombaKu (Yohanes 21:17).
Petrus menyebut dirinya sebagai rasul Yesus Kristus.
dan sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus (I Petrus 1:1; 5:1), dan juga ia mengatakan bahwa ia mengirimkan surat ini dari Babilon (I Petrus 5:13).
Surat ini dialamatkan kepada orang-orang Kristen yang telah mengungsi dan yang telah meninggalkan negeri mereka karena penganiayaan yakni orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia (I Petrus 1:1).
Selama 2000 tahun ini, orang-orang Kristen telah mengalami dan melintasi banyak penderitaan dan penganiayaan, sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya (I Petrus 2:21).
Pokok yang disoroti dalam surat Petrus yang pertama adalah mengenai pentingnya Firman Allah sebagai Pedoman bagi kehidupan kita dalam Kristus:
Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal
(I Petrus 1:23).
Juga orang-orang percaya dinasihatkan agar menjadi seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan
(I Petrus 2:2).
Periode di antara kedua surat ini diwarnai dengan situasi yang kritis dan sulit yang harus dihadapi oleh jemaat Tuhan. Karena itu Petrus mengingatkan: Berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh.... demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. ....Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu (II Petrus 1:10; 2:1-3).
SURAT PERTAMA YOHANES
Salah satu tujuan dari surat ini adalah agar kita dipenuhi dengan sukacita (I Yohanes 1:4). Tema utama penulis di sini adalah Firman karena ia mengatakan bahwa dengan matanya sendiri ia telah memandang atau melihat firman hidup dan barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintahNya ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firmanNya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia (I Yohanes 1:1; 2:4-5).
Banyak orang yang mengaku diri Kristen terus mengejar semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging (pemuasan keinginan daging) dan keinginan mata (keinginan hal-hal material) serta keangkuhan hidup (popularitas sia-sia), bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia (I Yohanes 2:16).
Tema yang kedua mengingatkan kita bahwa kasih adalah ciri yang membedakan seorang Kristen. Perkataan kasih muncul lebih dari 40 kali dalam lima pasal yang singkat dalam surat ini.
Kasih Allah yang mendiami kita menyebabkan terjadinya perubahan yang luar biasa dalam kehidupan orang-orang Kristen.
Kasih itu menyebabkan muncul kerinduan untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Allah sebagaimana dinyatakan dalam FirmanNya dan sikap yang menyerupai Kristus terhadap orang lain di dalam situasi apapun.
Ujian untuk dapat mengenal kasih Allah adalah dengan memelihara firmanNya.
Hal yang ketiga adalah bahwa surat ini ditulis agar supaya kita dapat mengenal pentingnya kekudusan yaitu supaya setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci (I Yohanes 3:3).
Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci (I Yohanes 3:3).
Keempat, surat ini mengingatkan kita tentang ajaran palsu yang bertujuan merusak kesetiaan kita kepada Kristus dengan menyesatkan mereka yang tidak mengenal firmanNya.
Tema yang kelima adalah tentang bagaimana mengetahui bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (I Yohanes 5:13-20).
Tema yang keenam dari I Yohanes menjelaskan tentang jaminan doa yang terkabul.
Kita dijanjikan: Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.
Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya. (I Yohanes 5:14-15).
Jaminan keselamatan terlihat dalam banyak ayat di mana ditegaskan bahwa orang percaya itu dapat mengetahui keselamatan itu (I Yohanes 2:3,5,29; 3:14,16,19,24; 4:13,16; 5:15,18-20).
Akhirnya Yohanes mengemukakan peringatan agar waspada terhadap segala berhala (I Yohanes 5:21) -- dari segala sesuatu yang merampas tempat yang seharusnya ditempati oleh Tuhan yakni hati kita.
Langganan:
Postingan (Atom)





