Sabtu, 19 Februari 2011

SURAT PAULUS KE KOLOSE


Kota Kolose terletak di sebuah propinsi Romawi di Asia Kecil tepat di rute perdagangan timur-barat yang melintas dari Efesus ke Tarsus dan ke Siria.
Sepanjang kita ketahui Paulus tidak pernah berkunjung ke Kolose namun dalam suratnya, Paulus menyebut orang-orang Kristen di Kolose sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose (Kolose 1:2).

Epafras yang disebut Paulus sebagai kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia .... melayani di kota itu. Mungkin ketika Paulus tinggal di Efesus, kira-kira lima tahun sebelumnya, ketika semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan (Kisah 19:10; Lihat juga Kisah 19:26) maka Filemon, Afia, Arkhipus, Epafras dan orang-orang lain datang kepada pertobatan. Mereka semuanya menjadi saksi-saksi Kristus yang efektif di wilayah itu. Gereja di Kolose terdiri dari orang-orang Yahudi maupun dari bangsa kafir.

Tujuan dari surat ini adalah untuk menekankan keunggulan Kristus atas segala sesuatu:
Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi,..... Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. ...... Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Kolose 1:16-19).
Paulus mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu ada oleh atau melalui Kristus dan segala sesuatu diciptakan untuk Dia dan demi kemuliaanNya.
Selain itu ditekankan pula bahwa hanyalah Kristus melalui firmanNya yang dapat memenuhi segala kebutuhan-kebutuhan rohani kita.

Gereja di Kolose juga diperhadapkan dengan beberapa orang percaya dari kalangan Yahudi yang masih percaya bahwa orang-orang Kristen dituntut agar tetap mentaati hukum-hukum Musa dan juga adanya orang-orang lain yang mempraktekkan penyembahan kepada malaikat-malaikat.
Karena itu Paulus mengemukakan tentang kecukupan Kristus yang dapat memenuhi segala sesuatu.
Ia mengingatkan:
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8).

Paulus kemudian menunjukkan bagaimana Perjanjian yang Lama yang menekankan tentang sunat telah digantikan oleh Perjanjian yang Baru yang ditetapkan oleh Yesus.

Untuk membuktikan bahwa orang percaya telah mendapat bagian di dalam Perjanjian yang Baru, Paulus mengemukakan bahwa mereka bersama-sama dengan Dia dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia turut dibangkitkan juga oleh kepercayaan kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati (Kolose 2:12).
Juga dinyatakan bahwa kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus (Galatia 3:27).
Juga Paulus sebelumnya telah menulis kepada jemaat di Roma bahwa sunat jasmani telah digantikan oleh sunat hati:
Orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah (Roma 2:29).

Karena itu sebagai ungkapan praktis dari kehidupan Kristus dan tanggung jawab kita sebagai orang-orang Kristen maka kita perlu mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu (keinginan yang tak terkendalikan seperti praktek homoseks dan lesbian), nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5).

SURAT PERTAMA DAN KEDUA PAULUS KE TESALONIKA


Rasul Paulus dipimpin oleh Roh Kudus ke Tesalonika pada perjalanan pengabaran Injil yang kedua. Tesalonika adalah ibu kota dari Makedonia (Yunani bagian utara) dan merupakan kota pelabuhan yang makmur.
Beberapa orang Yahudi dan banyak dari orang-orang Yunani menjadi percaya dan menerima firman Allah yang diberitakan itu (I Tesalonika 2:13) dan sebuah gereja berhasil didirikan di sana.

Karena mengalami tantangan yang cukup besar maka Paulus terpaksa meninggalkan Tesalonika dan berangkat ke Berea dan di sana ia disambut dengan baik.
Namun tak lama kemudian beberapa orang Yahudi yang fanatik datang dari Tesalonika dan menentangnya.
Karena itu ia berangkat ke Athena dan di sana ia harus berhadapan dengan kaum intelektual yang menyambutnya secara dingin sehingga di kota itu ia tidak melihat hasil yang besar dalam pelayanannya.
Dari sana ia berangkat ke Korintus (Kisah 17:15-17; 18:1; I Tesalonika 3:1).

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, Paulus menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengenal kesesatan dan mengalahkan kejahatan adalah dengan mengenal atau memahami firman Allah, yang bekerja di dalam orang yang percaya (I Tesalonika 2:13).
Memahami firmanNya adalah satu-satunya cara untuk membedakan kekeliruan yang tidak sesuai dengan FirmanNya.
Kemudian Paulus menunjukkan beberapa hal yang harus terjadi sebelum Yesus kembali.
Paulus juga menegaskan kepada orang-orang Tesalonika bahwa Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (I Tesalonika 4:16-17).
Ia juga umat Tuhan untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan Kristus yang kedua kali -- agar seluruh keberadaan mereka baik roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita (I Tesalonika 5:23).

Dalam II Tesalonika, Paulus menubuatkan bahwa sebelum Kristus kembali, kejahatan dan kemurtadan akan semakin hebat di bawah kepemimpinan Antikristus yang dikenal sebagai manusia durhaka.
Pada waktu itu akan terjadi penolakan yang luar biasa terhadap kebenaran.
Ia juga mengingatkan bahwa pengajaran-pengajaran palsu akan menyebabkan datangnya murtad.... karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka (II Tesalonika 2:3,10).
Jaminan tentang kedatangan Kristus ditunjukkan lebih dari 20 kali dalam pasal yang singkat di dalam kedua surat ini.

SURAT PERTAMA DAN KEDUA PAULUS UNTUK TIMOTIUS


Di dalam kedua surat yang dialamatkan kepada Timotius ini, Paulus menekankan pentingnya Kitab Suci dalam penyembahan atau ibadah kepada Allah maupun untuk kehidupan yang berkenan kepadaNya. Kemudian dalam surat ini Paulus pula menekankan tentang syarat-syarat penting atau kualifikasi para penatua dan diaken yaitu antara lain agar mereka terdidik dalam soal-soal pokok iman kita ...dan ajaran yang sesuai dengan ibadah kita (I Timotius 4:6; 6:3).

Di dalam suratnya yang pertama ini Paulus menegaskan: Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (I Timotius 2:5).
Paulus menasihatkan atau mendorong Timotius agar tetap setia kepada Kristus dan firmanNya.

Menjelang kematiannya, Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius yang juga merupakan suratnya yang terakhir yang ditulisnya ketika ia berada di penjara di Roma (II Timotius 4:6-7).

Paulus kembali mendorong Timotius yang dikasihinya agar menjadi kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus (II Timotius 2:1).
Kemudian ia melanjutkan : Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya yang demikian ia berkenan kepada komandannya (II Timotius 2:4).
Paulus mengingatkan bahwa kegagalan dalam memepelajari seluruh isi Kitab Suci dengan saksama akan mengakibatkan kita akan menjadi malu menghadap Tuhan (II Timotius 2:15).
Hanyalah Firman Allah yang dapat memberikan hikmat untuk mengenal dan melakukan kehendak Allah (II Timotius 3:15)
Memahami Firman Allah akan menghindari kita dari kesesatan yang diakibatkan oleh mencampuradukkan kebenaran dan kekeliruan.
Paulus menekankan tentang kecukupan Kitab Suci dalam memberikan jawaban-jawaban terhadap setiap permasalahan kehidupan manusia.

RENUNGKAN TENTANG HAL INI.
Dari jutaan kitab yang ada di dunia ini, Alkitab merupakan satu-satunya kitab yang diilhamkan Allah yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (dalam kekudusan hidup, dalam penyesuaian dengan kehendak Allah dalam pikiran, maksud dan tindakan).
Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (benar-benar dipersiapkan untuk menjadi orang sebagaimana dimaksudkan Allah dan benar-benar diperlengkapi untuk melaksanakan maksud Ia menciptakan kita) (II Timotius 3:16-17).
Namun Paulus juga mengingatkan bahwa banyak orang akan lebih ingin menyenangkan manusia dari pada kehilangan popularitas mereka.
Karena itu Paulus menasihatkan Timotius agar setia memberitakan firman (II Timotius 4:1-4).

SURAT PAULUS KEPADA TITUS


Paulus telah meninggalkan Titus di pulau Kreta, dan surat ini dikirimkan kepadanya dengan maksud memberi pejunjuk supaya ia dapat mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya ia menetapkan penatua-penatua di setiap kota (Titus 1:5).
Kemudian Roh Kudus melalui Paulus mengemukakan tentang syarat-syarat bagi seorang penatua (pelayan Injil).

Syarat-syarat khusus bagi para pemimpin rohani harus dituruti secara saksama.
Sekarang ini sebagaimana pada abad pertama, sikap mengabaikan satu syarat akan membawa konsekuensi yang dahsyat bagi mereka atau jemaat yang mengabaikannya.
Surat kepada Titus ini menekankan agar para pemimpin gereja ini harus tidak bercacat cela dan tetap setia kepada firman Tuhan (Titus 1:6-9).
Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang yang mengaku diri guru-guru tetapi sebenarnya adalah penyesat-penyesat yang mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik (Titus 1:16).

Paulus memberikan petunjuk bahwa lelaki yang lebih tua harus mengajar yang lebih muda dan mengajar mereka untuk meninggalkan ambisi-ambisi yang jahat dan keinginan-keinginan duniawi dan hidup untuk memuliakan Allah sementara menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan dirinya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan (Titus 2:13-14).
Nasihat ini diikuti dengan peringatan bahwa kehidupan kekal itu tidak diperoleh melalui perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita (Titus 3:5-7).

SURAT PAULUS KEPADA FILEMON


Paulus menulis surat ini kepada Filemon yang mungkin adalah seorang Kristen yang berpengaruh di Kolose dan juga adalah petobat yang dimenangkan oleh Paulus dalam pelayanannya.

Onesimus seorang budak milik Filemon bertobat juga di bawah pelayanan Paulus dan rupanya ia telah melarikan diri dari rumah Filemon lalu bertemu dengan Paulus.
Oleh karena Onesimus adalah orang Kristen maka ia setuju untuk kembali kepada majikannya di Kolose itu.
Karena itu surat yang indah ini bermaksud mendorong Filemon agar menerima kembali Onesimus bukan sebagai seorang budak yang telah melarikan diri melainkan sebagai saudara yang dikasihi dalam Tuhan sama seperti sikap yang diperlihatkannya dalam menerima Paulus (Filemon 1:16-17).

Pokok pikiran utama dalam surat ini adalah bahwa Kristus telah menciptakan semua manusia sama dan semuanya indah di hadapan Dia. Karena itu semua orang baik kaya atau miskin, kuat atau lemah harus mendapatkan penghargaan yang sama dan perlakuan yang sama.

Surat ini memberikan gambaran yang nyata tentang kebenaran dalam Galatia 3:28 bahwa di dalam Kristus tidak ada hamba atau orang merdeka.

Ada sebelas ayat berbicara mengenai Tuhan Yesus di dalam surat yang singkat ini.

SURAT ORANG IBRANI


Telah lazim dipercayai bahwa Paulus menulis surat ini sementara ia tinggal di rumah sewaan di Roma (Kisah 28:30), kira-kira 10 tahun sebelum kehancuran Yerusalem oleh Titus, panglima tentara Romawi pada tahun 70 Masehi.
Namun penulis yang sebenarnya dari setiap kitab dalam Alkitab ini adalah Roh Kudus yang telah mengilhamkan firmanNya kepada manusia. Surat Ibrani berisi 29 kutipan langsung dan 53 kutipan tak langsung dari Perjanjian Lama.

Keunggulan Kristus merupakan pokok utama dari ke lima pasal yang pertama dari surat Ibrani ini. Allah .....pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. ....jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, nabi-nabi, imam-imam, Musa dan Taurat: Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar tentang Dia dan firmanNya (Ibrani 1:1-2,4; 2:1; Lihat Ibrani 3:3; 7:21-27).

Penulis Ibrani sangat menjunjung tinggi firman yang tidak mengandung kesalahan: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. (Ibrani 4:12).

Istilah lebih baik merupakan salah satu kata kunci dalam surat Ibrani. Surat ini mengemukakan perbedaan tuntutan-tuntutan Perjanjian Lama dengan berkat-berkat dalam Perjanjian Baru dan hubungan orang percaya dengan Kristus.
Kita memiliki pengharapan yang lebih baik (Ibrani 7: 19)
perjanjian yang lebih mulia (Ibrani 8: 6)
janji yang lebih tinggi (Ibrani 8:6).
Kesepuluh hukum terukir pada loh-loh batu namun perjanjian Kristus terukir dalam hati kita (Ibrani 8:10) dan sebagai orang percaya kita memiliki jaminan harta yang lebih baik (Ibrani 10:34).
Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya (Ibrani 10:35).

Bagi orang Israel, untuk menyembah Allah menurut Perjanjian Lama diperlukan darah dari hewan atau binatang yang tak bercacat yang dipersembahkan setiap hari bagi dosa karena kelalaian karena ketidaksengajaan mereka (Imamat 4:1-3). Namun tidak ada korban bagi dosa yang dilakukan secara sengaja (Bilangan 15:30).

Prinsip mendasar ini tetap berlaku pula sampai pada masa kini di bawah Perjanjian Baru.
Jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.
Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman (Ibrani 10:26-27; bandingkan Roma 6:1-2).

Perjanjian Baru hanya menuntut satu korban persembahan saja yaitu Anak Domba Allah yang sempurna (Wahyu 5:6,12; 13:8).
Hal ini sangat berbeda dengan Perjanjian Lama yang terus menerus menuntut pengorbanan binatang. Darah Kristus sendiri di atas tutup pendamaian telah menyucikan kita dari segala dosa-dosa kita (Ibrani 9:12; 10:1-29).
Sebagaimana dinyatakan pula dalam Perjanjian Lama:
Tetapi orang yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang beroleh hidup (Ibrani 10:38-39; bandingkan Habakuk 2:4).

Jumat, 18 Februari 2011

SURAT YAKOBUS


Penulis surat ini memperkenalkan dirinya sebagai Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus (Yakobus 1:1).

Setelah kelahiran Yesus dari seorang perawan, Maria melahirkan anak-anak lain dengan Yusuf sebagai suaminya. Salah satu dari anak-anaknya ini bernama Yakobus (Matius 13: 55; Markus 6:3). Ia tidak termasuk salah satu dari kedua belas rasul (Matius 10:2-4),
namun kemudian disebutkan sebagai penatua yang pertama memimpin gereja di Yerusalem (Kisah 12:17).
Paulus menyebutnya sebagai Yakobus, saudara Tuhan Yesus (Galatia 1:19).

Para utusan yang datang dari jemaat Yerusalem ke Antiokhia disebut datang dari kalangan Yakobus (Galatia 2:12);
dan Paulus melaporkan kepada Yakobus secara terperinci tentang apa yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain oleh pelayanannya (Kisah 21:18-19).

Dalam surat ini, Yakobus sering mengutip Perjanjian Lama untuk menguatkan beritanya.
Kemudian ia menerapkan isi Kitab Suci Perjanjian Lama kepada kehidupan Kristen (Yakobus 2:8,23; 4:5).

Tema dari Surat Yakobus bukan hanya menguraikan tentang iman dan perbuatan, melainkan bahwa iman yang sejati itu harus nyata dalam tindakan.

Surat ini mengemukakan beberapa ujian praktis dalam mengenal kesejatian iman kita.
Yakobus menasihatkan orang-orang percaya agar menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yakobus 1:27).
Juga Yakobus menegaskan bahwa pencobaan-pencobaan itu sebenarnya adalah ujian-ujian yang membeberkan iman yang palsu yang bertujuan pula untuk menumbuhkembangkan kedewasaan orang percaya (Yakobus 1:2-4).
Untuk melukiskan ketidaksetiaan kepada Kritus, Yakobus menjelaskan orang-orang yang tidak setia itu seperti orang-orang berzinah (yang melanggar janji mereka kepada Allah).
Persahabatan dengan dunia menjadikan mereka sebagai musuh Allah (Yakobus 4:4).

Yakobus mengingatkan bahwa kita menjadi anak-anak Allah secara rohani melalui Firman kebenaran .... yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Namun ketika kita telah diselamatkan, kita dinasihatkan untuk membuktikan iman kita melalui tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan kita, dan menjadi pelaku-pelaku Firman, bukannya pendengar-pendengar saja (Yakobus 1:18,21-23).

Yakobus menasihatkan orang-orang Kristen untuk berdoa dengan tekun, dan di dalam suratnya ini ia menjelaskan tentang kuasa doa yang besar itu dengan mengingatkan kita mengenai Elia yang adalah manusia biasa sama seperti kita (Yakobus 1:5-8; 5:13-18), yang memiliki iman yang teguh bahwa Allah dapat dan akan menjawab doanya.


AWAL SURAT YAKOBUS

my song

Pengikut