Sabtu, 19 Februari 2011
SURAT PAULUS KE ROMA
Rasul Paulus belum pernah mengunjungi jemaat di Roma ketika ia menulis surat ini.
Surat ini ditulisnya dari Korintus dalam perjalanan pengabaran Injil yang ketiga.
Surat ini banyak mengungkap mengenai pokok-pokok penting menyangkut kehidupan Kristen:
Pasal 1–3 mengemukakan bahwa Allah adalah benar dan bahwa murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman (Roma 1:17-18). Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa (Roma 3:20).
Ini menunjukkan bahwa baik orang Yahudi maupun kafir telah berdosa di hadapan Allah dan tak mampu dengan usaha kemampuannya sendiri untuk diperdamaikan dengan Dia:
Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak (Roma 3:9-10).
Pasal 4–5 menjelaskan bahwa Allah yang benar itu telah menyediakan jalan bagi setiap orang untuk memperoleh pengampunan dosa apabila kita percaya kepada Dia yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, di antara orang mati, yaitu Yesus, yang diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus, yang telah menanggung dosa-dosa dan hukuman setiap orang untuk diperdamaikan dengan Allah melalui kematian dan kebangkitanNya (Roma 4:24-25; 5:1).
Pasal 6 menjelaskan secara lengkap tentang arti dan pentingnya pembaptisan orang percaya:
Bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematianNya.
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru (Roma 6:3-4).
Pasal 7–8 menjelaskan tentang konflik antara sifat rohani yang baru orang percaya dengan sifat lamanya yang berdosa:
Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.
Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.
Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup (Roma 8:10,12-13).
Pasal 9–11 menunjukkan hubungan Injil Yesus Kristus dengan orang-orang Yahudi dan kafir, yakni untuk menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas benda-benda belas kasihanNya yang telah dipersiapkanNya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggilNya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain (Roma 9:23-24).
Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan (Roma 10:13).
Pasal 12–16 berisi penuntun bagi pertumbuhan rohani dan sikap serta perilaku kita, yaitu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:1-2).
Tuhan Yesus juga menegaskan: Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah (Matius 22:21; Markus 12:17; Lukas 20:25).
Kesadaran ini akan nyata dalam sikap takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
Sebab itu barangsiapa melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya (Roma 13:1-2).
Kita juga wajib memupuk sikap tenggang rasa terhadap hati nurani orang-orang lain (Roma 14:1-23) dan kerelaan untuk mau menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri (Roma 15:1).
Dalam Kitab Roma, Paulus menekankan pula betapa penting peran Perjanjian Lama itu bagi pemahaman yang lengkap akan kehidupan Kristen:
Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci (Roma 15:4).
SURAT PERTAMA DAN KEDUA PAULUS KE KORINTUS
Karena kurang mendapat sambutan di Athena (Kisah 17:23,30-34), Rasul Paulus berangkat ke Korintus yang terletak kira-kira 50 mil ke sebelah barat.
Di sana ia tinggal hampir dua tahun (Kisah 18:11,18).
Selama ia tinggal di sana, ia membiayai dirinya dengan bekerja sebagai pembuat tenda, bersama-sama dengan Akila dan Priskila.
Kedua suami istri Yahudi ini mengungsi dari Roma karena perintah Kaisar Klaudius yang mengharuskan seluruh orang Yahudi keluar dari kota itu (Kisah 18:1-2).
Dengan penduduknya yang lebih dari 400,000, Korintus terkenal sebagai kota yang makmur.
Kota ini menguasai jalur perdagangan laut timur/barat dan juga perdagangan darat utara/selatan. Korintus merupakan ibu kota Akhaya, sebuah propinsi Romawi dan salah satu kota terkemuka di Yunani.
Di atas bukit yang membentang ke arah Korintus terlihat sebuah kuil penyembahan kepada dewi Aphrodit, dewi cinta.
Di kuil ini banyak kaum pelacur wanita maupun lelaki melakukan praktek amoral mereka sebagai bagian dari upacara ritual agama mereka.
Ketika Paulus meninggalkan Korintus, ia mengakhiri perjalanan pengabaran Injilnya yang kedua dengan berhenti sebentar di Efesus.
Di sana ia meninggalkan Akila dan Priskila (Kisah 18:18-19), yang memulaikan pertemuan jemaat di rumah mereka (I Korintus 16:19).
Dalam perjalanan pengabaran Injil yang ketiga, Paulus kembali ke Efesus (I Korintus 16:8) dan di sana ia menerima laporan yang mengecewakan mengenai permasalahan-permasalahan yang muncul dalam jemaat Korintus (I Korintus 1:11; 5:1; 7:1; 11:18).
Gereja itu terpecah belah menjadi empat kelompok (I Korintus 1:10 - 4:21) dan sebagian dari anggotanya terjerumus ke dalam hal-hal amoral (I Korintus 5:1-13).
Dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang muncul ini, Roh Kudus menggerakkan Paulus untuk menjelaskan tentang arti dan pentingnya persekutuan dengan darah Kristus …… tubuh Kristus (I Korintus 10:16-17) dan pentingnya melakukan segala sesuatu bagi Kemuliaan Allah (I Korintus 10:31). Ia juga menjelaskan secara mendetail tentang Perjamuan Tuhan, yang dinyatakan oleh Tuhan kepadanya:
Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! (I Korintus 11:24-25).
Kemudian ia menjelaskan tentang sembilan karunia Roh Kudus yang dijelaskan secara mendetail dalam pasal 12–14.
Dalam pasal 13, kita dapat menemukan penjelasan yang sangat indah tentang kasih (pasal 13); dan uraian tentang kebangkitan Kristus dalam pasal 15.
Tujuan utama surat II Korintus adalah untuk memuji tindakan disipliner yang telah diambil oleh jemaat terhadap mereka yang berbuat dosa sebagaimana petunjuk yang dikemukakan oleh Paulus dalam suratnya yang sebelumnya.
Kitab ini juga memperingatkan tentang nabi-nabi palsu, dan mempertahankan otoritas kerasulan Paulus(II Korintus 10-13).
Setelah keberangkatan Paulus, tampaknya timbul kelompok-kelompok dalam gereja yang menentang kepemimpinannya dan meragukan jabatannya sebagai rasul.
Mereka mengatakan :
Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti(II Korintus 10:10).
Tema utama dari II Korintus adalah pelayanan pendamaian.
SURAT PAULUS KE GALATIA
Paulus mengalamatkan suratnya ini kepada jemaat-jemaat di Galatia (Galatia 1:2) termasuk Antiokhia Pisidia, Ikonium, Listra dan Derbe -- yakni kota-kota yang terletak di wilayah yang berbeda namun semuanya merupakan bagian dari propinsi Galatia yang dikuasai oleh kerajaan Romawi.
Dalam perjalanan pengabaran Injil Paulus ke wilayah ini, ia ditemani oleh Barnabas (Kisah 13 - 14).
Namun dalam perjalanan pengabaran Injil yang kedua ke wilayah Galatia ini ia disertai oleh Silas (Kisah 15:40-41; 16:1-2,5-6).
Paulus mendengar kabar bahwa ada guru-guru palsu yang sedang mempengaruhi orang-orang percaya di wilayah itu yang mengajarkan bahwa mentaati hukum Musa, termasuk sunat dan merayakan hari raya-hari raya Yahudi harus dilakukan oleh setiap orang Kristen.
Namun Paulus menjelaskan bahwa Tuhan Yesus Kristus, …. telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini (Galatia 1:3-4), dan Paulus menegaskan pula jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia (Galatia 1:9).
Tujuan atau maksud Paulus yang terutama adalah untuk menghindarkan orang-orang Galatia agar tidak memeluk Kekristenan yang palsu.
Ia juga menegaskan bahwa setiap orang yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus (Galatia 3:27); karena di dalam Kristus kita sekalian telah menjadi ciptaan baru (Galatia 4:19; 6:15).
Surat ini merupakan awasan bagi semua orang yang masih senang mempraktekkan dosa-dosa kedagingan karena Paulus menegaskan bahwa barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging (sifat manusiawinya) dengan segala hawa nafsu dan keinginannya yang jahat (Galatia 5:19-21,24).
Paulus juga memberikan penjelasan yang indah mengenai bagaimana seharusnya kehidupan yang dikuasai dan dipimpin oleh Roh:
Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5:22-23).
SURAT PAULUS KE EFESUS
Rasul Paulus tinggal di Korintus lebih dari satu tahun setengah (Kisah 18:11).
Kemudian ia berlayar bersama dengan Akila dan Priskila ke Efesus dan meninggalkan mereka di sana untuk melanjutkan pelayanannya.
Ia meneruskan perjalanannya ke Yerusalem untuk waktu yang singkat dengan maksud untuk memenuhi janjinya dan memberi salam kepada jemaat.
Kemudian ia kembali ke pusat pelayanannya di Antiokhia selama mungkin setahun dan mengajarkan Firman Tuhan di sana (Kisah 18:18-22)
Dalam perjalanan pengabaran Injilnya yang ketiga, Paulus tinggal di Efesus dan selama dua tahun berkhotbah dan mengajar di sana (Kisah 19:1,8-10; 20:31).
Selama ia tinggal di sana banyak orang bertobat dan memutuskan untuk meninggalkan penyembahan kepada Diana dan menjadi orang-orang Kristen yang sejati:
Dengan jalan ini makin tersiarlah firman Tuhan (tentang Yesus sebagai Juruselamat, Kristus yang dinyatakan dalam nubuatan) dan makin berkuasa (Kisah 19:20).
Paulus juga memfokuskan perhatian kepada kekayaan kasih karunia Allah dan kemurahanNya yang besar yang telah menghidupkan kita di dalam Yesus Kristus.
Ia mengingatkan kita bahwa pada masa lampau kita hidup di dalamnya, karena mengikuti jalan dunia ini, ....menuruti kehendak daging dan pikiran yang jahat.
Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurka (berada di bawah hukuman Allah), sama seperti mereka yang lain (Efesus 2:2-3).
Tetapi sekarang kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, ......dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:23-24).
Surat Efesus juga mengajarkan bahwa kita sedang berada dalam peperangan bukan melawan kekuatan-kekuatan jasmani melainkan melawan kekuatan-kekuatan roh.
Surat ini dapat disebut sebagai “Penuntun bagi orang Kristen dalam peperangan rohani” karena dalam surat ini menjelaskan tentang perlengkapan kita, strategi peperangan kita dan satu-satunya senjata ampuh kita yakni Firman Allah dengan kuasa Roh Kudus.
Berbeda dengan orang-orang percaya yang berjalan di dalam hidup baru dalam Kristus adalah mereka yang berasal dari dunia ini yang berjalan menuruti pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka (Efesus 4:17-18)
Paulus menasihatkan mereka untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan kegelapan
(Efesus 5:11) - dengan mengingatkan mereka bahwa tidak ada orang sundal (yang mempraktekkan dosa-dosa seksual), orang cemar (cemar dalam pikiran dan kehidupannya) atau orang serakah (yang menginginkan milik orang lain dan mengejar keuntungan), artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah (Efesus 5:5).
Pada akhir dari kitab ini Paulus menasihatkan kita untuk mempersiapkan diri bagi peperangan rohani dengan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah dan menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan akan Firman Allah untuk dapat mengalahkan dan memadamkan semua panah api dari si jahat (Efesus 6:11-17).
SURAT PAULUS KE FILIPI
Rasul Paulus sedang berada di Troas, di wilayah Asia Kecil, ketika ia menerima panggilan melalui suatu penglihatan untuk memberitakan Injil, Kabar Baik, ke wilayah Makedonia.
Bersama-sama dengan dia adalah Lukas, Silas dan Timotius.
Mereka naik ke sebuah kapal dan berlayar ke Neapolis.
Ini merupakan perjalanan Paulus yang pertama ke Eropa dan juga merupakan kali yang pertama Injil dibertakan ke wilayah itu.
Dari sana mereka berlayar menuju ke Filipi yang terletak kira-kira 10 mil.
Filipi adalah kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma (Kisah 16:12).
Petobat pertama dalam pelayanan Paulus ini adalah Lidia, seorang wanita pengusaha dari Tiatira. Para pemilik seorang gadis yang dirasuk Setan yang disembuhkan dalam pelayanan Paulus ini menjadi marah sehingga menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa......lalu membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu,....... Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.
Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara.
Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. ..... Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah..... lalu terjadilah gempa bumi yang hebat (Kisah 16:19-26).
Pintu-pintu penjara secara ajaib terbuka dan setiap rantai yang membelenggu para nara pidana terlepas.
Setelah mendengarkan kesaksian Paulus dan Silas, pengawal penjara dan seluruh kaum keluarganya menjadi percaya! dan dibaptiskan (Kisah 16:33).
Beberapa tahun kemudian pada perjalanan pengabaran Injil yang ketiga, Paulus mengunjungi jemaat Filipi yang ia telah dirikan (Kisah 20:6).
Pada waktu Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Filipi, ia sedang menjadi tahanan Nero, Kaisar Romawi.
Peristiwa ini mungkin terjadi sepuluh tahun setelah gereja didirikan di sana, kira-kira 30 tahun setelah kenaikan Kristus dan peristiwa Pentakosta ketika gereja yang pertama didirikan.
Di dalam penjara di Roma ini, Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi, Kolose, Efesus dan kepada rekan sekerjanya yang bernama Filemon.
Walaupun ia adalah tahanan dari pemerintah Romawi, namun Paulus menyebut dirinya sebagai orang yang dipenjarakan karena Kristus karena ia menyadari bahwa seluruh aspek kehidupannya dikuasai atau dikendalikan oleh Kristus (Efesus 3:1; 4:1; II Timotius 1:8; Filemon 1:1,9).
Fokus perhatiannya bukan kepada keadaan sekitarnya melainkan senantiasa kepada Yesus Kristus yang mengatasi segala situasi apapun.
Pokok pikiran utama Paulus dalam kitab ini adalah: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! (Filipi 4:4). Istilah “sukacita” dan “bersukacita” disebutkan 16 kali dalam surat ini.
SURAT PAULUS KE KOLOSE
Kota Kolose terletak di sebuah propinsi Romawi di Asia Kecil tepat di rute perdagangan timur-barat yang melintas dari Efesus ke Tarsus dan ke Siria.
Sepanjang kita ketahui Paulus tidak pernah berkunjung ke Kolose namun dalam suratnya, Paulus menyebut orang-orang Kristen di Kolose sebagai saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose (Kolose 1:2).
Epafras yang disebut Paulus sebagai kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia .... melayani di kota itu. Mungkin ketika Paulus tinggal di Efesus, kira-kira lima tahun sebelumnya, ketika semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan (Kisah 19:10; Lihat juga Kisah 19:26) maka Filemon, Afia, Arkhipus, Epafras dan orang-orang lain datang kepada pertobatan. Mereka semuanya menjadi saksi-saksi Kristus yang efektif di wilayah itu. Gereja di Kolose terdiri dari orang-orang Yahudi maupun dari bangsa kafir.
Tujuan dari surat ini adalah untuk menekankan keunggulan Kristus atas segala sesuatu:
Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi,..... Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. ...... Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Kolose 1:16-19).
Paulus mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu ada oleh atau melalui Kristus dan segala sesuatu diciptakan untuk Dia dan demi kemuliaanNya.
Selain itu ditekankan pula bahwa hanyalah Kristus melalui firmanNya yang dapat memenuhi segala kebutuhan-kebutuhan rohani kita.
Gereja di Kolose juga diperhadapkan dengan beberapa orang percaya dari kalangan Yahudi yang masih percaya bahwa orang-orang Kristen dituntut agar tetap mentaati hukum-hukum Musa dan juga adanya orang-orang lain yang mempraktekkan penyembahan kepada malaikat-malaikat.
Karena itu Paulus mengemukakan tentang kecukupan Kristus yang dapat memenuhi segala sesuatu.
Ia mengingatkan:
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2:8).
Paulus kemudian menunjukkan bagaimana Perjanjian yang Lama yang menekankan tentang sunat telah digantikan oleh Perjanjian yang Baru yang ditetapkan oleh Yesus.
Untuk membuktikan bahwa orang percaya telah mendapat bagian di dalam Perjanjian yang Baru, Paulus mengemukakan bahwa mereka bersama-sama dengan Dia dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia turut dibangkitkan juga oleh kepercayaan kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati (Kolose 2:12).
Juga dinyatakan bahwa kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus (Galatia 3:27).
Juga Paulus sebelumnya telah menulis kepada jemaat di Roma bahwa sunat jasmani telah digantikan oleh sunat hati:
Orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah (Roma 2:29).
Karena itu sebagai ungkapan praktis dari kehidupan Kristus dan tanggung jawab kita sebagai orang-orang Kristen maka kita perlu mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu (keinginan yang tak terkendalikan seperti praktek homoseks dan lesbian), nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (Kolose 3:5).
SURAT PERTAMA DAN KEDUA PAULUS KE TESALONIKA
Rasul Paulus dipimpin oleh Roh Kudus ke Tesalonika pada perjalanan pengabaran Injil yang kedua. Tesalonika adalah ibu kota dari Makedonia (Yunani bagian utara) dan merupakan kota pelabuhan yang makmur.
Beberapa orang Yahudi dan banyak dari orang-orang Yunani menjadi percaya dan menerima firman Allah yang diberitakan itu (I Tesalonika 2:13) dan sebuah gereja berhasil didirikan di sana.
Karena mengalami tantangan yang cukup besar maka Paulus terpaksa meninggalkan Tesalonika dan berangkat ke Berea dan di sana ia disambut dengan baik.
Namun tak lama kemudian beberapa orang Yahudi yang fanatik datang dari Tesalonika dan menentangnya.
Karena itu ia berangkat ke Athena dan di sana ia harus berhadapan dengan kaum intelektual yang menyambutnya secara dingin sehingga di kota itu ia tidak melihat hasil yang besar dalam pelayanannya.
Dari sana ia berangkat ke Korintus (Kisah 17:15-17; 18:1; I Tesalonika 3:1).
Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, Paulus menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengenal kesesatan dan mengalahkan kejahatan adalah dengan mengenal atau memahami firman Allah, yang bekerja di dalam orang yang percaya (I Tesalonika 2:13).
Memahami firmanNya adalah satu-satunya cara untuk membedakan kekeliruan yang tidak sesuai dengan FirmanNya.
Kemudian Paulus menunjukkan beberapa hal yang harus terjadi sebelum Yesus kembali.
Paulus juga menegaskan kepada orang-orang Tesalonika bahwa Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (I Tesalonika 4:16-17).
Ia juga umat Tuhan untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan Kristus yang kedua kali -- agar seluruh keberadaan mereka baik roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita (I Tesalonika 5:23).
Dalam II Tesalonika, Paulus menubuatkan bahwa sebelum Kristus kembali, kejahatan dan kemurtadan akan semakin hebat di bawah kepemimpinan Antikristus yang dikenal sebagai manusia durhaka.
Pada waktu itu akan terjadi penolakan yang luar biasa terhadap kebenaran.
Ia juga mengingatkan bahwa pengajaran-pengajaran palsu akan menyebabkan datangnya murtad.... karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka (II Tesalonika 2:3,10).
Jaminan tentang kedatangan Kristus ditunjukkan lebih dari 20 kali dalam pasal yang singkat di dalam kedua surat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)






