Minggu, 20 Februari 2011
NEHEMIA
Nehemia termasuk dalam kelompok orang-orang Yahudi yang menjadi tawanan di Babel yang dibesarkan di Persia setelah Koresy memberikan kebebasan kepada mereka.
Nehemia telah mendapat kedudukan yang terhormat sebagai pengangkat anggur bagi raja Artahsasta, raja Kerajaan Persia.
Ini merupakan jabatan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar.
Tidak banyak orang dalam kerajaan itu yang memiliki hubungan yang sangat akrab dengan raja seperti seorang yang menjabat sebagai pengangkat anggur bagi raja (I Raja-Raja 10:5; II Tawarikh 9:4).
Nehemia menerima laporan mengenai kemelaratan jasmani dan rohani yang melanda Yerusalem dan hatinya menjadi sedih mendengar keadaan itu.
Karena itu Ezra duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari dan Ia berpuasa dan berdoa kepada hadirat Allah (Nehemia 1:4).
Doa-doa Nehemia itu mengakibatkan raja Persia memberikan izin kepadanya untuk berangkat dan sekali gus mengangkatnya sebagai gubernur Yehuda, serta mengaruniakan kepadanya kekuasaan untuk membangun kembali tembok kota itu (Nehemia 2:5-7; 5:14).
Nehemia memahami akan Firman Allah dan secara rohani ia telah siap untuk memulihkan kembali penyembahan kepada Allah di Yeruselem.
Kedudukannya yang terhormat, kesenangan pribadi dan jaminan materi baginya tidak sepenting seperti kasihnya kepada Allah yang benar dan keprihatinannya terhadap keadaan umat yang berada di Yerusalem.
Ketika Nehemia tiba di Yerusalem, ia melayani bersama-sama dengan Ezra dalam menghadapi berbagai tantangan serta hambatan yang datang dari para musuh di sekliling mereka yang berusaha mematahkan semangat mereka.
Memulihkan tembok yang telah hancur, yang sebelumnya berfungsi melindungi Yerusalem dari gerombolan perampok mejadi perhatiannya yang terutama.
Orang-orang Israel telah tinggal di tengah-tengah puing reruntuhan sejak Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem kira-kira 140 tahun sebelumnya (II Raja-Raja 25:8-11).
Orang-orang Yahudi yang tersisa tidak bisa merasakan ketenangan karena mereka tidak dilindungi oleh tembok yang berfungsi menghambat serangan musuh-musuh.
Ancaman serangan musuh itu datang dari bangsa-bangsa di sekitar mereka yang mudah sekali menyusup masuk untuk menjarah hasil pertanian atau harta benda mereka.
Bahkan beberapa dari pemuka-pemuka di Yerusalem pun tidak mau bekerja sama dengan Nehemia (Nehemia 2:19; 3:5; 4:1-12).
Dalam menghadapi berbagai bahaya yang mengancam itu (Nehemia 4:12-23; 6:2-4,10-13), Nehemia tetap mengandalkan doa dan iman kepada Allah dalam memimpin orang banyak untuk menyelesaikan pembangunan tembok yang berhasil dikerjakan dalam waktu yang singkat yang mencakup kira-kira 52 hari saja (Nehemia 6:15).
Setelah tembok itu selesai dikerjakan, seluruh rakyat meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa .......membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu ....... lalu orang-orang Lewi mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu (Nehemia 8:1,3,8). Keesokan harinya para pemuka masyarakat kembali datang kepada Ezra untuk meminta penjelasan mengenai kalimat-kalimat Taurat itu (Nehemia 8:14).
Kegiatan-kegiatan ini diakhiri dengan peringatan Hari Raya Pondok Daun di mana pada hari itu diadakan doa, pengakuan, puasa dan pemulihan ikatan perjanjian dengan Tuhan Allah mereka (Nehemia 10:29).
Setelah tembok Yerusalem itu ditahbiskan oleh Ezra dan Nehemia (Nehemia 12:27-43), Nehemia terus menjabat sebagai gubernur Yehuda yang berkedudukan di Yerusalem selama kira-kira 12 tahun dan kemudian ia kembali mengadakan kunjungan singkat ke pengadilan Persia (Nehemia 5:14).
Selama kepergian Nehemia dari Yerusaelm, Firman Allah kembali dilalaikan yang mengakibatkan merajalelanya korupsi dan perbuatan jahat (Nehemia 13:6).
Namun, ketika Nehemia kembali, ia sekali lagi dengan gigih dan penuh semangat mengajak bangsa itu untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan membaharui kembali hubungan perjanjian mereka dengan Allah, serta memulihkan penyembahan yang benar kepada Tuhan (Nehemia 13:7-31).
Nehemia dan Ezra kedua-duanya sangat giat dalam memberitakan Firman Allah kepada orang banyak, dan membimbing mereka agar dapat menerapkannya ke dalam kehidupan mereka (Nehemia 8:8,13,18; 13:1-30).
Ketaatan hamba-hamba Allah ini harus mengilhami kita agar kita pun terbeban untuk menolong orang-orang Kristen yang lain dalam memahami Firman Allah, yang merupakan satu-satunya sumber pimpinan dan jawaban kepada doa-doa kita dan berkat-berkat Allah.
ESTER
Sebagian dari Kitab Ester mencakup periode kira-kira 10 sampai 15 tahun sejarah keturunan orang-orang Yahudi yang tinggal di Persia setelah 70 tahun mereka mengalami penawanan. Peristiwa-peristiwa dalam kitab ini kemungkinan terjadi di antara pasal enam dan tujuh kitab Ezra dan mungkin terjadi kira-kira 40 tahun setelah Bait Allah dibangun kembali (Ezra 3:10; 5:14-15), dan kira-kira 30 tahun sebelum tembok Yerusalem dibangun kembali (Nehemia 6:15). Kemungkinan besar Ester, yang sekarang telah menjadi ibu suri, telah digunakan Allah untuk menyiapkan jalan bagi Nehemia, rekan tawanannya, untuk menjabat sebagai pengangkat anggur bagi Raja Artahsasta I, yang adalah anak tirinya.
Jabatan dan hubungannya dengan raja telah memungkinkan bagi Nehemia untuk membangun kembali tembok dan melaksanakan tugas-tugasnya di Yerusalem.
Ketika bangsa Persia mengalahkan Raja Belsyazar dan Kerajaan Babel, semua orang Yahudi dinasihatkan oleh Raja Koresy untuk kembali ke Yerusalem guna membangun kembali Bait Allah (Ezra 1:1-4).
Namun, sebagian besar orang Yahudi, yang adalah keturunan mereka yang pertama ditawan ke Babel, telah tinggal di sana selama 50-70 tahun dan mereka belum pernah melihat Tanah Perjanjian itu. Walaupun sekarang mereka telah bebas dari kekuasaan Babel, namun sebagian besar dari mereka lebih senang tinggal di Kerajaan Persia yang ramah dan makmur dari pada meninggalkan Babel dan menanggung banyak penderitaan dalam perjalanan yang panjang yang akan mereka tempuh menuju Yerusalem yang tinggal puing reruntuhan.
Ahasyweros (Ester 1:1) adalah nama Ibrani bagi Raja Persia yang memerintah dari 486 - 465 S.M. Namanya dalam bahasa Yunani adalah Xerxes.
Dalam perjamuan yang dinyatakan pada awal Kitab Ester, tampaknya ia menyusun rencana untuk memerangi kerajaan Yunani, yang akhirnya membawa kekalahan baginya.
Ahasyweros memerintah di Susan (Susa), yang terletak di wilayah Iran sekarang dekat perbatasan dengan Irak.
Pemerintahan dari Artahsasta I, putranya, tercatat dalam Ezra 7 - 10 dan Nehemia 1 - 13.
Walaupun kuasa dan pemeliharaan Allah jelas nyata sepanjang kitab ini, namun nama Allah tidak pernah disebutkan walau sekalipun.
Tujuan dari kitab Ester, Ezra dan Nehemia adalah untuk menyatakan bahwa tak ada situasi yang harus membuat kita putus asa dan karena Allah sanggup mengatasi segala musuh kita.
Allah akan menggenapi segala hal yang menyangkut kehendakNya, di dalam dan melalui kehidupan umatNya, walaupun umat Allah itu tergolong minoritas yang tidak berdaya yang dikelilingi oleh orang-orang yang jahat.
Seluruh peristiwa dalam Kitab ini membuktikan tentang pengendalian dan pemeliharaan Allah bagi umatNya.
Allah itu Mahakuasa, Maha tahu, dan Mahahadir. Ia adalah Tuhan, Allah segala makhluk, tidak ada sesuatupun yang mustahil bagiNya (Yeremia 32:27).
Bahkan kalaupun semua manusia membelakangiNya, Tuhan dapat berbicara melalui keledai sebagaimana yang Ia pernah lakukan kepada Bileam (Bilangan 22:28-31).
Atau, apabila umat tidak mau berseru kepadaNya, Ia dapat membuat batu-batu berseru kepadaNya (Lukas 19:40) sebagaimana dikatakan oleh Yesus kepada para pengeritikNya.
Walaupun Ia tidak membutuhkan pertolongan, namun Ia bisa saja mendatangkan lebih dari dua belas pasukan malaikat (Matius 26:53).
Namun, Allah telah berkenan menggunakan para hamba pilihanNya untuk melaksanakan kehendakNya - yaitu mereka yang benar-benar berserah kepadaNya.
Hal berpuasa, termasuk doa, yang merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan, telah membawa perlindungan bagi umat Allah.
Melalui Mordekhai dan Ester, hamba- hambaNya, Tuhan menggenapi rencanaNya bagi umatNya dan melindungi garis keturunan Mesias itu (Ester 4:3-4,16-17).
Doa yang bersungguh-sungguh sebagaimana yang diucapkan oleh Mordekhai - yang melolong-lolong dengan nyaring dan pedih (Ester 4:1) -- senantiasa diikuti dengan berpuasa, sebagai cara untuk datang dan mendekati Tuhan dan menghindarkan diri dari segala keinginan duniawi dan hawa nafsu daging (bandingkan Yesaya 58:1-14; Daniel 9:3-19; 10:2-3; Matius 17:21; Markus 9:29).
AYUB
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyatakan penghargaan yang sangat tinggi terhadap tokoh yang bernama Ayub.
Allah sendiri menyamakan kebenaran Ayub dengan Nuh dan Daniel:
Kalau sesuatu negeri berdosa kepadaKu ..... Aku ... mendatangkan kelaparan atasnya dan melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang .... Biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka, demikianlah firman Tuhan Allah (Yehezkiel 14:13-14,16,18,20).
Dalam Perjanjian Baru tertulis:
Kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya (Yakobus 5:11).
Kalimat-kalimat ini membuktikan tanpa keraguan bahwa memang ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub (Ayub 1:1).
Tanah Us itu tidak dijelaskan secara tepat lokasinya, namun berdasarkan Kejadian 10:23 dan Kejadian 22:20-22 kita menduga bahwa tanah itu berada di wilayah sebelah timur Israel dekat dengan padang gurun Arab atau mungkin di sekitar daerah Edom, sebelah tenggara Israel.
Us itu terletak di wilayah suku Teman, Suah, dan Naama dan Bus (Ayub 2:11; 32:2).
Juga tanah itu tidak jauh dari wilayah orang Syeba dan Kasdim (Ayub 1:15,17).
Lokasinya yang tepat tidaklah penting, melainkan yang lebih penting adalah pelajaran rohani tentang perlunya memahami dan menerima situasi yang malang atau penderitaan sebagai sesuatu yang tetap relevan dan dapat dikenakan bagi setiap zaman.
Kitab ini diawali dengan sejarah singkat mengenai seorang saleh yang berdoa yang bernama Ayub yang dijelaskan oleh Alkitab sebagai orang yang jujur dan takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1; 2:3).
Juga ia adalah orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur (Ayub 1:3).
Dalam dua pasal yang pertama, kita membaca mengenai tuduhan Iblis terhadap Ayub dan pengalaman pahit yang Allah izinkan berlaku bagi Ayub.
Ujian-ujian terhadap Ayub menjadi teladan bagi kita tentang bagaimana seorang yang beriman tetap berserah kepada hikmat Allah yang maha kuasa.
Kitapun dapat berserah kepadaNya untuk mengatasi setiap permasalahan yang kita hadapi.
Di dalam Kitab Ayub, kita melihat alasan-alasan yang dikemukakan oleh Allah, Setan, Ayub, isterinya, ketiga sahabatnya, dan Elihu.
Pada saat anda membaca pasal demi pasal dalam kitab ini, perhatikan dengan saksama perbedaan antara hikmat Ayub yang saleh dan argumentasi-argumentasi yang bermaksud baik, namun keliru atau setengah benar, bahkan menyesatkan yang dikemukakan oleh sahabat-sahabat Ayub.
Allah sangat menghargai Ayub karena ia berbicara tentang kebenaran, sedangkan sahabat-sahabat Ayub mengemukakan hal-hal yang jauh atau telah menyimpang dari kebenaran (Ayub 42:7).
Allah menghargai Ayub sebagai orang yang memiliki pengetahuan rohani, integritas dan kesetiaan. Namun, Setan selalu menyuguhkan hal-hal yang bohong mengenai orang Kristen, bahkan sampai menggunakan Yudas dan para pemimpin agama pada masa itu untuk mengkhianati dan menyalibkan Anak Allah.
Tidaklah mengherankan bila ketiga sahabat Ayub memiliki pandangan yang keliru dan menuduh Ayub sebagai orang berdosa yang dalam keadaan bingung dan kalut.
Kitab ini membeberkan Setan sebagai penyebab segala penderitaan, dengan segala upayanya yang gigih untuk membohongi setiap orang mengenai siapa yang seharusnya disalahkan untuk segala penderitaan yang menimpa manusia.
Dengan cara ini ia berusaha merongrong kesetiaan dan kasih kita kepada Allah.
Nasihat-nasihat dari sahabat-sahabat Ayub yang beragama serta dari Elihu membuktikan betapa menipu dan tak dapat dipercaya logika manusia itu.
Jawaban-jawaban yang benar dan yang paling memuaskan terhadap kebutuhan-kebutuhan kita terdapat di dalam Kitab Suci yang tidak mungkin salah, yang bersumber dari Allah Pencipta yang Maha tahu.
Anda akan memperhatikan dalam bacaan setiap hari bukan saja mengenai penderitaan Ayub yang hebat, melainkan juga perkembangan pemahaman rohaninya.
Pada pasal-pasal terakhir (Ayub 38-42), Allah membekali Ayub dengan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam mengenai Allah dan dunia ciptaanNya ini.
Dalam pasal terakhir, Allah sekali lagi menegaskan dan menghapus keragu-raguan kita mengenai kebenaran Ayub dalam sepanjang ujian yang harus dilaluinya (Ayub 1:1,8,22; 2:10; 42:7-8).
MAZMUR
Kitab Mazmur merupakan kitab yang terpanjang dalam Alkitab.
Roh Kudus, yang menggerakkan Daud untuk menulis kira-kira 70 dari 150 mazmur, adalah sebenarnya merupakan penulis kitab ini.
Yesus bukan saja mendasarkan suatu argumentasi yang penting tentang keabsahan Mazmur 110 melainkan menguatkan pengilhamannya oleh Roh Kudus ketika Ia berkata:
Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata,
Tuhan telah berfirman kepada Tuanku; duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu (Markus 12:36).
Para penulis lainnya yang mendapat ilham untuk menulis mazmur adalah Musa, Salomo, Asaf, Etan, Heman, dan anak-anak Korah.
Penulis dari kira-kira 50 mazmur dalam kitab ini tidak diketahui dengan pasti.
Kebanyakan dari mazmur-mazmur ini adalah nyanyian-nyanyian yang mengungkapkan pujian dan syukur atas kasih dan kesetiaan Sang Pencipta kita.
Memang merupakan rencana Allah bagi kita untuk memuji Dia melalui nyanyian, sebagaimana Ia berkata:
Bersorak-soraklah bagi Tuhan (Mazmur 100:1).
Dalam kelima mazmur terakhir masing-masing diawali dan diakhiri dengan perkataan:
Pujilah Tuhan, yang adalah terjemahan dari istilah Ibrani Haleluya.
Nada pikiran pemazmur sering beralih dari perasaan gagal kepada keceriaan.
Mazmur-mazmur ini mengajar kita untuk mengampuni dan menerima diri kita dan orang-orang lain, serta mengungkapkan syukur kepada Allah kita atas keampunan, kesembuhan, dan pemulihan kita.
Mazmur-mazmur ini juga mengungkapkan doa-doa permohonan untuk kemurahan dan pertolongan serta penyerahan dan kepercayaan.
Namun hal lain yang menonjol dalam kitab Mazmur adalah penghargaan tinggi yang diberikan kepada Kitab Suci itu sendiri:
Kaubuat namaMu dan janjiMu melebihi segala sesuatu (Mazmur 138:2).
Allah telah mengangkat FirmanNya mengatasi segala sesuatu yang lain.
Jadi dalam hal ini jelas bahwa Kitab Suci itu sangat penting, dan sikap mengabaikan FirmanNya pada hakekatnya merupakan penghinaan kepada Allah.
Pentingnya Kitab Suci itu disebutkan sekurang-kurangnya 170 kali, di dalam 176 ayat dalam Mazmur 119, terkecuali tiga ayat.
Mazmur-mazmur ini mengungkapkan pikiran orang yang rindu menyembah dan memuji Bapa Sorgawi kita, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
Walaupun ditulis seribu tahun sebelum kelahiran Yesus, banyak mazmur-mazmur yang menunjuk kepada Mesias -- mengenai kelahiran, kehidupan, pengkhianatan, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikanNya.
Mazmur-mazmur berikut ini berbicara tentang Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru: 2, 8, 16, 22, 40, 41, 45, 68, 69, 89, 102, 109, 110, 118.
Dalam mazmur 2, Mesias itu adalah Anak Allah yang harus disembah;
mazmur 16:10-11 menyatakan tentang kebangkitanNya,
mazmur 22 tentang penderitaanNya,
dan mazmur 40 tentang pengorbananNya;
dalam mazmur 45:6 Mesias itu adalah Allah;
dalam mazmur 89 Ia adalah Oknum yang dijanjikan untuk menggenapi perjanjian Allah dengan Daud; dan dalam mazmur 110 Ia adalah Imam-Raja dan Tuhan dari Daud.
Setelah kebangkitanNya, Yesus membuka mata para muridNya sehingga mereka melihat Dia di dalam Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur (Lukas 24:27,44), yang berarti seluruh Perjanjian Lama.
Ini berarti bahwa orang yang hanya mau membaca Perjanjian Baru saja telah membatasi pengetahuannya tentang Kristus dan kehendakNya bagi kehidupannya.
Mazmur-mazmur ini memberikan pengetahuan yang dalam mengenai ajaran-ajaran mendasar dalam Alkitab, seperti mengenai Allah sebagai Pencipta dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (Mazmur 8:3-9; 90:1-2; 104:1-32) dan bahwa Ia adalah Oknum yang mengenal setiap pikiran kita (Mazmur 139:1-18,23-24).
Mazmur-mazmur ini juga menjelaskan perbedaan antara dosa dan kebenaran dan menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sikap kita terhadap penderitaan dan pergumulan yang kita hadapi setiap hari.
Perkataan benar dan kebenaran digunakan kira-kira 130 kali.
Perkataan dosa, kesalahan, dan kejahatan ditemukan lebih dari 100 kali yang menyatakan tentang peperangan rohani yang harus kita hadapi setiap hari melawan tipu daya Iblis.
Mazmur-mazmur tentang hukuman terhadap orang-orang fasik mengajarkan bahwa dosa adalah pemberontakan terhadap Allah dan kekuasaanNya.
Ketika Roh Allah memimpin para pemazmur untuk berbicara tentang pembalasan atau hukuman atas orang fasik, yang dimaksud bukan pembalasan pribadi melainkan ungkapan tentang kehendak Allah mengenai segala bentuk ketidakadilan dan janji bahwa dosa pada akhirnya akan dihukum:
Pembalasan itu adalah hakKu, .... demikianlah firman Tuhan (Roma 12:19).
Berbeda dengan Allah yang mutlak sempurna, manusia dinyatakan telah lahir dalam dosa dan karena itu membutuhkan seorang Penebus.
Dalam khotbahnya pada Hari Pentakosta, Petrus mengutip dari kitab Mazmur untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias (Kisah 2:25; Mazmur 16:8-11).
AMSAL
Salomo menggubah tiga ribu amsal (I Raja-Raja 4:32).
Namun hikmat yang terkandung di dalam amsal-amsal itu berasal dari Allah.
Hikmat itu dimulai dengan takut akan Tuhan (Amsal 1:7).
Sikap takut atau hormat ini merupakan permulaan hikmat ..... dan permulaan pengertian (Amsal 9:10) dan menyangkut setiap aspek kehidupan -- jasmani, moral, spiritual, keuangan, politik dan sosial.
Apabila perhatian utama kita adalah kasih, kesetiaan, dan pelayanan kepada Tuhan, maka kita akan sangat bersyukur untuk amsal-amsal ini yang akan menolong mengarahkan kehidupan kita.
Karena hanya orang bodoh menghina hikmat dan didikan dari Tuhan(Amsal 1:7).
Kesetiaan yang didasari kasih akan mengakibatkan penyerahan penuh kepada FirmanNya dan akan menghindarkan kita dari sikap tidak mengandalkan pandangan-pandangan orang banyak (Amsal 3:5-6). Hikmat itu pada hakekatnya adalah sifat Allah Pencipta kita dan kita membutuhkan hikmatNya untuk dapat menjalani dan menikmati kehidupan yang berarti.
Perbedaan mendasar di antara orang berhikmat dan orang bodoh terlihat di dalam penggunaan mereka terhadap waktu, talenta dan harta benda yang dipercayakan kepada mereka.
Kita semua berada di salah satu jalan di dalam kita harus menempuh perjalanan mengarungi hidup ini.
Jalan yang ditempuh orang yang berhikmat akan membawa kebahagiaan, kepuasan, damai, dan hidup kekal; sedangkan jalan lebar yang ditempuh orang bodoh pada akhirnya akan mengakibatkan tipuan, kekecewaan, dan akhirnya neraka atyau kebinasaan yang kekal.
Penyembahan yang benar itu bersifat ke dalam dan keluar.
Penyembahan eksternal -- berupa nyanyian-nyanyian yang kita lagukan dan kata-kata yang kita ucapkan -- seharusnya merupakan ekspresi keluar dari apa yang ada di dalam hati kita (Amsal 17:3).
Ketidakkonsistenan dalam bidang-bidang ini merupakan kemunafikan dan kejijikan kepada Allah (Amsal 11:20; 15:8).
Ketika kita berdosa, kita harus mengakui kesalahan kita, berdoa untuk pengampunan, dan tunduk kepada didikan (disiplin, koreksi) Tuhan (Amsal 3:11).
Beberapa dari bidang-bidang yang ditegaskan dalam kitab ini adalah :
01. Pergaulan jahat harus dijauhi (Amsal 1:10-18; 13:20).
02. Tamak itu suatu kejahatan yang dahsyat dan keuntungannya tidak akan bertahan lama (Amsal 1:19; 23:4-5; 28:20).
03. Zinah, homoseksual, dan semua dosa-dosa seksual merupakan kejijikan (Amsal 2:16-19; 5; 6:23-35; 7; 9:13-18; 22:14).
04.Berupaya hidup dalam damai dengan sesama kita (Amsal 3:28-30; 17:13); bandingkan: Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18).
05. Kemalasan akan selalu menghancurkan peluang-peluang seseorang (Amsal 6:6-11; 13:4; 15:19).
06. Lidah kita harus dikendalikan karena merupakan alat kehidupan dan kematian (Amsal 13:3; 18:21; 21:23).
07. Carilah orang-orang berhikmat sebagai sahabat dan hindarilah orang-orang yang bodoh (Amsal 9).
08. Membeberkan kesalahan dan kegagalan orang lain harus dihindari oleh karena kita akan selalu menuai apa yang kita tabur (Amsal 10:12; bandingkan Galatia 6:7).
09. Kejujuran dalam setiap transaksi harus terus dipelihara (Amsal 11:1; 20:14,28; 21:6).
10. Keangkuhan dan mencari pujian diri sendiri adalah musuh-musuh hikmat (Amsal 12:9; 13:10; 16:5,18-19; 21:4).
11. Kita harus menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang tertindas, memberikan kekuatan kepada yang lemah, dan membantu orang-orang yang miskin (Amsal 3:27;12:25;14:31;16:24).
12. Orang berhikmat memandang kehidupan ini sebagai peluang untuk melaksanakan kehendak Allah, sedangkan orang yang bodoh melihat kehidupan ini sebagai peluang untuk memuaskan keinginan dirinya (Amsal 13:7; 23:1,20-21,29-32).
13. Dengki dan kemarahan selalu menghancurkan diri sendiri (Amsal 14:17,30; 15:1).
14. Peringatan-peringatan mengenai bahaya-bahaya dan tipu daya minuman keras harus diindahkan (Amsal 20:1; 21:17; 23:30-32; 31:4-5).
Kitab Amsal mengajarkan bahwa keberadaan yang berarti dan sejati merupakan akibat dari hubungan yang benar dengan Allah sebagaimana dinyatakan dalam FirmanNya. Kitab ini diakhiri dengan penegasan kembali bahwa orang yang takut akan Tuhan akan dipuji (Amsal 31:30).
PENGKHOTBAH
Penulis kitab Pengkhotbah memperkenalkan dirinya sebagai anak Daud, Raja di Yerusalem (Pengkhotbah 1:1), dan juga kita membaca:
Aku, Pengkhotbah, adalah raja atas Israel di Yerusalem (Pengkhotbah 1:12).
Salomo menyebutkan mengenai 27 hasil karyanya selama hidupnya dan ia mengatakan:
Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku bersukacita (kesenangan jasmani) karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku (Pengkhotbah 2:10).
Selama waktu pemerintahannya itu, ia banyak melanggar Firman Allah dengan mengumpulkan banyak kuda, menumpuk kekayaan, dan banyak isteri (Ulangan 17:16-17).
Namun kembali ia mengaku: Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan .... segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin ... aku membenci hidup (Pengkhotbah 2:11,17).
Salomo berulang kali menggunakan ungkapan:
Segala sesuatu adalah kesia-siaan.
Istilah kesia-siaan menunjuk kepada sesuatu yang sifatnya sementara, yang akan hilang dan tak berharga dan tidak akan bertahan lama.
Salomo mengakui bahwa segala hal yang telah dikerjakannya, seperti segala kemewahannya, kekayaannya, dan isteri-isterinya, semuanya tak dapat memuaskannya.
Kekayaan Salomo memang tak terbatas karena ia telah mewarisi harta dan kekuasaan yang sangat besar dari Daud, ayahnya.
Namun ia ternyata tidak hidup menurut kehendak Allah.
Pada akhir 40 tahun pemerintahannya, kerajaannya menjadi bobrok dan akibat penindasan yang dikenakannya terhadap bangsanya sendiri dengan pajak yang sangat memberatkan sehingga bangsanya telah berencana untuk memberontak terhadapnya.
Salomo menoleh ke belakang kepada kehidupannya menjadi teladan yang malang yang tak pantas ditiru oleh orang-orang lain.
Ia memang sering berbicara mengenai perlunya mencari hikmat, namun hikmat yang ia maksudkan adalah hikmat dunia, di luar Allah dan di luar FirmanNya sebagaimana telah diperintahkan Allah bagi semua raja-raja (Ulangan 17:18-20).
Setelah menjalani kehidupannya dalam kesia-siaan, Salomo menyimpulkan bahwa seseorang adalah bodoh apabila ia berpikir bahwa ia dapat beroleh kesenangan dan kepuasan melalui berbagai usaha-usaha, kemampuan-kemampuan, ambisi dan kekayaannya sendiri.
Ia telah menjelaskan mengenai apa yang telah berlaku di dalam kehidupannya sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan ia menyimpulkan:
Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi (Pengkhotbah 4:13).
Salomo menyebutkan orang jahat atau fasik sebagai orang yang bodoh.
Namun ia juga mengamati bahwa banyak orang-orang beragama pun memasuki Rumah Allah tanpa rasa hormat, dan mereka menaikkan doa-doa yang panjang tanpa kesungguhan hati, dan mengucapkan sumpah janji yang kemudian cepat dilupakan (Pengkhotbah 5:1-7).
Salomo akhirnya datang kepada kesimpulan bahwa apapun karunia, talenta, kemampuan dan peluang serta harta milik seseorang tak akan dapat memuaskannya karena manusia selalu ingin memperoleh lebih dari apa yang ia telah miliki (Pengkhotbah 5:10-20; 6:1-9).
Ketidakpuasan akan senantiasa ada karena memang seluruh harta milik kita sebenarnya adalah milik Allah dan hanya Dialah yang dapat memberi kepuasan yang kekal apabila kita menggunakan segala apa yang telah Allah berikan bagi kemuliaan dan hormatNya.
Seluruh kehidupan ini pada hakekatnya hanya memiliki satu tujuan -- memuliakan Allah.
Bagi kita tentu saja ini berarti bahwa kehidupan kita harus menjadi sebagaimana yang Allah inginkan dan kita perlu mewujudkan tujuan penciptaanNya atas kita (Yohanes 12:25-26; Roma 12:1-2; I Korintus 6:20).
Ketika Salomo menyatakan:
Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu (Pengkhotbah 11:9), maka sebenarnya ia menyampaikan apa yang telah ia lakukan dalam sepanjang hidupnya.
Apabila kita tidak membaca kelanjutan beritanya ini, maka akan terkesan bahwa ia mendorong orang-orang muda untuk terus mengejar kepuasam hawa nafsu dan kesenangan jasmani.
Namun, sebagai raja tua yang bodoh (Pengkhotbah 4:13), ia selanjutnya mengingatkan:
Tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan (Pengkhotbah 11:9; 8:6).
Setelah berupaya mencari untuk menemukan arti kehidupan ini, Salomo pada akhirnya menyadari bahwa hikmat sejati manusia itu sebenarnya bergantung kepada takut akan Allah yang pasti akan menjatuhkan hukuman atas perbuatan-perbuatan jahat manusia.
Karena itu kita diingatkan:
Ingatlah akan Penciptamu (karena engkau bukan milikmu sendiri, melainkan adalah milikNya) pada masa mudamu .....Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:1,14; 8:12-13).
KIDUNG AGUNG
Kitab Kidung Agung ini ditulis oleh Salomo (Kidung Agung 1:1).
Para rabbi Yahudi menganggap kitab ini sebagai ilustrasi mengenai hubungan di antara Allah dan Israel.
Banyak pemimpin Kristen percaya bahwa kitab ini mengungkapkan kasih yang telah terjalin di antara Kristus dan JemaatNya.
Juga kitab ini mengungkapkan kerinduan orang Kristen akan kehadiran Mempelai Lelaki Sorgawi dan akan terwujudnya persatuan yang indah antara Mempelai Wanita dan Mempelai Laki-Laki - Raja segala Raja dan Tuhan atas segala yang dipertuan.
Tepat sekali kitab ini menggambarkan hubungan yang kudus di antara Allah dan semua orang yang mengasihiNya.
Kitab Kidung Agung ini secara kiasan mengemukakan idaman atau impian yang indah dan kenangan yang indah yang dirasakan oleh seorang isteri muda yang suaminya sedang pergi.
Kisah cinta yang indah ini mengungkapkan kasih yang suci dari sebuah hubungan perkawinan yang telah dirancang dan ditetapkan oleh Sang Pencipta:
Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur (perkawinan), sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah (Ibrani 13:4).
Kisah keseluruhan ini diwarnai oleh impian.
Situasinya adalah bayangan atau impian dan bukan sesuatu yang benar-benar terjadi.
Kerinduan, gairah, dan usaha pencarian semuanya diungkapkan dalam bahasa impian.
Mempelai wanita sedang tidur di ranjangnya, namun pikirannya senantiasa tertuju kepada mempelai laki-laki yang tidak bersamanya.
Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku.
Kucari, tetapi tak kutemui dia (Kidung Agung 3:1).
Ada banyak kesulitan yang dikemukakan dalam interpretasi rohani terhadap beberapa bagian ayat dalam kitab ini, sebagaimana adanya beberapa kesulitan pula dalam interpretasi mengenai Gereja sebagai Mempelai wanita Kristus dan Kristus sebagai Mempelai Lelaki kita.
Terkadang, kita sangat senang terhadap kehangatan kehadiran Kristus yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun seringkali pula kehadiranNya yang indah itu terasa hilang.
Namun kasih kita kepadaNya akan terus bertumbuh apabila kita memilki sikap menantikan dia dengan penuh pengharapan untuk bertemu dengan Dia kembali.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar (hanya memahami sedikit tentang Allah dan kekekalan), tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka (ketika kita bertemu dengan Yesus, segala sesuatu akan menjadi jelas).
Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal (dan dipahami oleh Allah) (I Korintus 13:12).
Pentingnya Kidung ini dapat dilihat dalam dua hal.
1. Sang Pencipta yang mengendalikan hati raja itu telah memimpin para penyusun Kitab Suci ini untuk memasukkan Kidung Agung Salomo ini.
2. Tuhan sendiri telah berkata bahwa: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar (II Timotius 3:16).
Langganan:
Postingan (Atom)






