Minggu, 20 Februari 2011
MAZMUR
Kitab Mazmur merupakan kitab yang terpanjang dalam Alkitab.
Roh Kudus, yang menggerakkan Daud untuk menulis kira-kira 70 dari 150 mazmur, adalah sebenarnya merupakan penulis kitab ini.
Yesus bukan saja mendasarkan suatu argumentasi yang penting tentang keabsahan Mazmur 110 melainkan menguatkan pengilhamannya oleh Roh Kudus ketika Ia berkata:
Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata,
Tuhan telah berfirman kepada Tuanku; duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu (Markus 12:36).
Para penulis lainnya yang mendapat ilham untuk menulis mazmur adalah Musa, Salomo, Asaf, Etan, Heman, dan anak-anak Korah.
Penulis dari kira-kira 50 mazmur dalam kitab ini tidak diketahui dengan pasti.
Kebanyakan dari mazmur-mazmur ini adalah nyanyian-nyanyian yang mengungkapkan pujian dan syukur atas kasih dan kesetiaan Sang Pencipta kita.
Memang merupakan rencana Allah bagi kita untuk memuji Dia melalui nyanyian, sebagaimana Ia berkata:
Bersorak-soraklah bagi Tuhan (Mazmur 100:1).
Dalam kelima mazmur terakhir masing-masing diawali dan diakhiri dengan perkataan:
Pujilah Tuhan, yang adalah terjemahan dari istilah Ibrani Haleluya.
Nada pikiran pemazmur sering beralih dari perasaan gagal kepada keceriaan.
Mazmur-mazmur ini mengajar kita untuk mengampuni dan menerima diri kita dan orang-orang lain, serta mengungkapkan syukur kepada Allah kita atas keampunan, kesembuhan, dan pemulihan kita.
Mazmur-mazmur ini juga mengungkapkan doa-doa permohonan untuk kemurahan dan pertolongan serta penyerahan dan kepercayaan.
Namun hal lain yang menonjol dalam kitab Mazmur adalah penghargaan tinggi yang diberikan kepada Kitab Suci itu sendiri:
Kaubuat namaMu dan janjiMu melebihi segala sesuatu (Mazmur 138:2).
Allah telah mengangkat FirmanNya mengatasi segala sesuatu yang lain.
Jadi dalam hal ini jelas bahwa Kitab Suci itu sangat penting, dan sikap mengabaikan FirmanNya pada hakekatnya merupakan penghinaan kepada Allah.
Pentingnya Kitab Suci itu disebutkan sekurang-kurangnya 170 kali, di dalam 176 ayat dalam Mazmur 119, terkecuali tiga ayat.
Mazmur-mazmur ini mengungkapkan pikiran orang yang rindu menyembah dan memuji Bapa Sorgawi kita, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
Walaupun ditulis seribu tahun sebelum kelahiran Yesus, banyak mazmur-mazmur yang menunjuk kepada Mesias -- mengenai kelahiran, kehidupan, pengkhianatan, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikanNya.
Mazmur-mazmur berikut ini berbicara tentang Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru: 2, 8, 16, 22, 40, 41, 45, 68, 69, 89, 102, 109, 110, 118.
Dalam mazmur 2, Mesias itu adalah Anak Allah yang harus disembah;
mazmur 16:10-11 menyatakan tentang kebangkitanNya,
mazmur 22 tentang penderitaanNya,
dan mazmur 40 tentang pengorbananNya;
dalam mazmur 45:6 Mesias itu adalah Allah;
dalam mazmur 89 Ia adalah Oknum yang dijanjikan untuk menggenapi perjanjian Allah dengan Daud; dan dalam mazmur 110 Ia adalah Imam-Raja dan Tuhan dari Daud.
Setelah kebangkitanNya, Yesus membuka mata para muridNya sehingga mereka melihat Dia di dalam Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur (Lukas 24:27,44), yang berarti seluruh Perjanjian Lama.
Ini berarti bahwa orang yang hanya mau membaca Perjanjian Baru saja telah membatasi pengetahuannya tentang Kristus dan kehendakNya bagi kehidupannya.
Mazmur-mazmur ini memberikan pengetahuan yang dalam mengenai ajaran-ajaran mendasar dalam Alkitab, seperti mengenai Allah sebagai Pencipta dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (Mazmur 8:3-9; 90:1-2; 104:1-32) dan bahwa Ia adalah Oknum yang mengenal setiap pikiran kita (Mazmur 139:1-18,23-24).
Mazmur-mazmur ini juga menjelaskan perbedaan antara dosa dan kebenaran dan menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sikap kita terhadap penderitaan dan pergumulan yang kita hadapi setiap hari.
Perkataan benar dan kebenaran digunakan kira-kira 130 kali.
Perkataan dosa, kesalahan, dan kejahatan ditemukan lebih dari 100 kali yang menyatakan tentang peperangan rohani yang harus kita hadapi setiap hari melawan tipu daya Iblis.
Mazmur-mazmur tentang hukuman terhadap orang-orang fasik mengajarkan bahwa dosa adalah pemberontakan terhadap Allah dan kekuasaanNya.
Ketika Roh Allah memimpin para pemazmur untuk berbicara tentang pembalasan atau hukuman atas orang fasik, yang dimaksud bukan pembalasan pribadi melainkan ungkapan tentang kehendak Allah mengenai segala bentuk ketidakadilan dan janji bahwa dosa pada akhirnya akan dihukum:
Pembalasan itu adalah hakKu, .... demikianlah firman Tuhan (Roma 12:19).
Berbeda dengan Allah yang mutlak sempurna, manusia dinyatakan telah lahir dalam dosa dan karena itu membutuhkan seorang Penebus.
Dalam khotbahnya pada Hari Pentakosta, Petrus mengutip dari kitab Mazmur untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias (Kisah 2:25; Mazmur 16:8-11).
AMSAL
Salomo menggubah tiga ribu amsal (I Raja-Raja 4:32).
Namun hikmat yang terkandung di dalam amsal-amsal itu berasal dari Allah.
Hikmat itu dimulai dengan takut akan Tuhan (Amsal 1:7).
Sikap takut atau hormat ini merupakan permulaan hikmat ..... dan permulaan pengertian (Amsal 9:10) dan menyangkut setiap aspek kehidupan -- jasmani, moral, spiritual, keuangan, politik dan sosial.
Apabila perhatian utama kita adalah kasih, kesetiaan, dan pelayanan kepada Tuhan, maka kita akan sangat bersyukur untuk amsal-amsal ini yang akan menolong mengarahkan kehidupan kita.
Karena hanya orang bodoh menghina hikmat dan didikan dari Tuhan(Amsal 1:7).
Kesetiaan yang didasari kasih akan mengakibatkan penyerahan penuh kepada FirmanNya dan akan menghindarkan kita dari sikap tidak mengandalkan pandangan-pandangan orang banyak (Amsal 3:5-6). Hikmat itu pada hakekatnya adalah sifat Allah Pencipta kita dan kita membutuhkan hikmatNya untuk dapat menjalani dan menikmati kehidupan yang berarti.
Perbedaan mendasar di antara orang berhikmat dan orang bodoh terlihat di dalam penggunaan mereka terhadap waktu, talenta dan harta benda yang dipercayakan kepada mereka.
Kita semua berada di salah satu jalan di dalam kita harus menempuh perjalanan mengarungi hidup ini.
Jalan yang ditempuh orang yang berhikmat akan membawa kebahagiaan, kepuasan, damai, dan hidup kekal; sedangkan jalan lebar yang ditempuh orang bodoh pada akhirnya akan mengakibatkan tipuan, kekecewaan, dan akhirnya neraka atyau kebinasaan yang kekal.
Penyembahan yang benar itu bersifat ke dalam dan keluar.
Penyembahan eksternal -- berupa nyanyian-nyanyian yang kita lagukan dan kata-kata yang kita ucapkan -- seharusnya merupakan ekspresi keluar dari apa yang ada di dalam hati kita (Amsal 17:3).
Ketidakkonsistenan dalam bidang-bidang ini merupakan kemunafikan dan kejijikan kepada Allah (Amsal 11:20; 15:8).
Ketika kita berdosa, kita harus mengakui kesalahan kita, berdoa untuk pengampunan, dan tunduk kepada didikan (disiplin, koreksi) Tuhan (Amsal 3:11).
Beberapa dari bidang-bidang yang ditegaskan dalam kitab ini adalah :
01. Pergaulan jahat harus dijauhi (Amsal 1:10-18; 13:20).
02. Tamak itu suatu kejahatan yang dahsyat dan keuntungannya tidak akan bertahan lama (Amsal 1:19; 23:4-5; 28:20).
03. Zinah, homoseksual, dan semua dosa-dosa seksual merupakan kejijikan (Amsal 2:16-19; 5; 6:23-35; 7; 9:13-18; 22:14).
04.Berupaya hidup dalam damai dengan sesama kita (Amsal 3:28-30; 17:13); bandingkan: Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18).
05. Kemalasan akan selalu menghancurkan peluang-peluang seseorang (Amsal 6:6-11; 13:4; 15:19).
06. Lidah kita harus dikendalikan karena merupakan alat kehidupan dan kematian (Amsal 13:3; 18:21; 21:23).
07. Carilah orang-orang berhikmat sebagai sahabat dan hindarilah orang-orang yang bodoh (Amsal 9).
08. Membeberkan kesalahan dan kegagalan orang lain harus dihindari oleh karena kita akan selalu menuai apa yang kita tabur (Amsal 10:12; bandingkan Galatia 6:7).
09. Kejujuran dalam setiap transaksi harus terus dipelihara (Amsal 11:1; 20:14,28; 21:6).
10. Keangkuhan dan mencari pujian diri sendiri adalah musuh-musuh hikmat (Amsal 12:9; 13:10; 16:5,18-19; 21:4).
11. Kita harus menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang tertindas, memberikan kekuatan kepada yang lemah, dan membantu orang-orang yang miskin (Amsal 3:27;12:25;14:31;16:24).
12. Orang berhikmat memandang kehidupan ini sebagai peluang untuk melaksanakan kehendak Allah, sedangkan orang yang bodoh melihat kehidupan ini sebagai peluang untuk memuaskan keinginan dirinya (Amsal 13:7; 23:1,20-21,29-32).
13. Dengki dan kemarahan selalu menghancurkan diri sendiri (Amsal 14:17,30; 15:1).
14. Peringatan-peringatan mengenai bahaya-bahaya dan tipu daya minuman keras harus diindahkan (Amsal 20:1; 21:17; 23:30-32; 31:4-5).
Kitab Amsal mengajarkan bahwa keberadaan yang berarti dan sejati merupakan akibat dari hubungan yang benar dengan Allah sebagaimana dinyatakan dalam FirmanNya. Kitab ini diakhiri dengan penegasan kembali bahwa orang yang takut akan Tuhan akan dipuji (Amsal 31:30).
PENGKHOTBAH
Penulis kitab Pengkhotbah memperkenalkan dirinya sebagai anak Daud, Raja di Yerusalem (Pengkhotbah 1:1), dan juga kita membaca:
Aku, Pengkhotbah, adalah raja atas Israel di Yerusalem (Pengkhotbah 1:12).
Salomo menyebutkan mengenai 27 hasil karyanya selama hidupnya dan ia mengatakan:
Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku bersukacita (kesenangan jasmani) karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku (Pengkhotbah 2:10).
Selama waktu pemerintahannya itu, ia banyak melanggar Firman Allah dengan mengumpulkan banyak kuda, menumpuk kekayaan, dan banyak isteri (Ulangan 17:16-17).
Namun kembali ia mengaku: Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan .... segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin ... aku membenci hidup (Pengkhotbah 2:11,17).
Salomo berulang kali menggunakan ungkapan:
Segala sesuatu adalah kesia-siaan.
Istilah kesia-siaan menunjuk kepada sesuatu yang sifatnya sementara, yang akan hilang dan tak berharga dan tidak akan bertahan lama.
Salomo mengakui bahwa segala hal yang telah dikerjakannya, seperti segala kemewahannya, kekayaannya, dan isteri-isterinya, semuanya tak dapat memuaskannya.
Kekayaan Salomo memang tak terbatas karena ia telah mewarisi harta dan kekuasaan yang sangat besar dari Daud, ayahnya.
Namun ia ternyata tidak hidup menurut kehendak Allah.
Pada akhir 40 tahun pemerintahannya, kerajaannya menjadi bobrok dan akibat penindasan yang dikenakannya terhadap bangsanya sendiri dengan pajak yang sangat memberatkan sehingga bangsanya telah berencana untuk memberontak terhadapnya.
Salomo menoleh ke belakang kepada kehidupannya menjadi teladan yang malang yang tak pantas ditiru oleh orang-orang lain.
Ia memang sering berbicara mengenai perlunya mencari hikmat, namun hikmat yang ia maksudkan adalah hikmat dunia, di luar Allah dan di luar FirmanNya sebagaimana telah diperintahkan Allah bagi semua raja-raja (Ulangan 17:18-20).
Setelah menjalani kehidupannya dalam kesia-siaan, Salomo menyimpulkan bahwa seseorang adalah bodoh apabila ia berpikir bahwa ia dapat beroleh kesenangan dan kepuasan melalui berbagai usaha-usaha, kemampuan-kemampuan, ambisi dan kekayaannya sendiri.
Ia telah menjelaskan mengenai apa yang telah berlaku di dalam kehidupannya sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan ia menyimpulkan:
Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi (Pengkhotbah 4:13).
Salomo menyebutkan orang jahat atau fasik sebagai orang yang bodoh.
Namun ia juga mengamati bahwa banyak orang-orang beragama pun memasuki Rumah Allah tanpa rasa hormat, dan mereka menaikkan doa-doa yang panjang tanpa kesungguhan hati, dan mengucapkan sumpah janji yang kemudian cepat dilupakan (Pengkhotbah 5:1-7).
Salomo akhirnya datang kepada kesimpulan bahwa apapun karunia, talenta, kemampuan dan peluang serta harta milik seseorang tak akan dapat memuaskannya karena manusia selalu ingin memperoleh lebih dari apa yang ia telah miliki (Pengkhotbah 5:10-20; 6:1-9).
Ketidakpuasan akan senantiasa ada karena memang seluruh harta milik kita sebenarnya adalah milik Allah dan hanya Dialah yang dapat memberi kepuasan yang kekal apabila kita menggunakan segala apa yang telah Allah berikan bagi kemuliaan dan hormatNya.
Seluruh kehidupan ini pada hakekatnya hanya memiliki satu tujuan -- memuliakan Allah.
Bagi kita tentu saja ini berarti bahwa kehidupan kita harus menjadi sebagaimana yang Allah inginkan dan kita perlu mewujudkan tujuan penciptaanNya atas kita (Yohanes 12:25-26; Roma 12:1-2; I Korintus 6:20).
Ketika Salomo menyatakan:
Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu (Pengkhotbah 11:9), maka sebenarnya ia menyampaikan apa yang telah ia lakukan dalam sepanjang hidupnya.
Apabila kita tidak membaca kelanjutan beritanya ini, maka akan terkesan bahwa ia mendorong orang-orang muda untuk terus mengejar kepuasam hawa nafsu dan kesenangan jasmani.
Namun, sebagai raja tua yang bodoh (Pengkhotbah 4:13), ia selanjutnya mengingatkan:
Tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan (Pengkhotbah 11:9; 8:6).
Setelah berupaya mencari untuk menemukan arti kehidupan ini, Salomo pada akhirnya menyadari bahwa hikmat sejati manusia itu sebenarnya bergantung kepada takut akan Allah yang pasti akan menjatuhkan hukuman atas perbuatan-perbuatan jahat manusia.
Karena itu kita diingatkan:
Ingatlah akan Penciptamu (karena engkau bukan milikmu sendiri, melainkan adalah milikNya) pada masa mudamu .....Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:1,14; 8:12-13).
KIDUNG AGUNG
Kitab Kidung Agung ini ditulis oleh Salomo (Kidung Agung 1:1).
Para rabbi Yahudi menganggap kitab ini sebagai ilustrasi mengenai hubungan di antara Allah dan Israel.
Banyak pemimpin Kristen percaya bahwa kitab ini mengungkapkan kasih yang telah terjalin di antara Kristus dan JemaatNya.
Juga kitab ini mengungkapkan kerinduan orang Kristen akan kehadiran Mempelai Lelaki Sorgawi dan akan terwujudnya persatuan yang indah antara Mempelai Wanita dan Mempelai Laki-Laki - Raja segala Raja dan Tuhan atas segala yang dipertuan.
Tepat sekali kitab ini menggambarkan hubungan yang kudus di antara Allah dan semua orang yang mengasihiNya.
Kitab Kidung Agung ini secara kiasan mengemukakan idaman atau impian yang indah dan kenangan yang indah yang dirasakan oleh seorang isteri muda yang suaminya sedang pergi.
Kisah cinta yang indah ini mengungkapkan kasih yang suci dari sebuah hubungan perkawinan yang telah dirancang dan ditetapkan oleh Sang Pencipta:
Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur (perkawinan), sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah (Ibrani 13:4).
Kisah keseluruhan ini diwarnai oleh impian.
Situasinya adalah bayangan atau impian dan bukan sesuatu yang benar-benar terjadi.
Kerinduan, gairah, dan usaha pencarian semuanya diungkapkan dalam bahasa impian.
Mempelai wanita sedang tidur di ranjangnya, namun pikirannya senantiasa tertuju kepada mempelai laki-laki yang tidak bersamanya.
Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku.
Kucari, tetapi tak kutemui dia (Kidung Agung 3:1).
Ada banyak kesulitan yang dikemukakan dalam interpretasi rohani terhadap beberapa bagian ayat dalam kitab ini, sebagaimana adanya beberapa kesulitan pula dalam interpretasi mengenai Gereja sebagai Mempelai wanita Kristus dan Kristus sebagai Mempelai Lelaki kita.
Terkadang, kita sangat senang terhadap kehangatan kehadiran Kristus yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun seringkali pula kehadiranNya yang indah itu terasa hilang.
Namun kasih kita kepadaNya akan terus bertumbuh apabila kita memilki sikap menantikan dia dengan penuh pengharapan untuk bertemu dengan Dia kembali.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar (hanya memahami sedikit tentang Allah dan kekekalan), tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka (ketika kita bertemu dengan Yesus, segala sesuatu akan menjadi jelas).
Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal (dan dipahami oleh Allah) (I Korintus 13:12).
Pentingnya Kidung ini dapat dilihat dalam dua hal.
1. Sang Pencipta yang mengendalikan hati raja itu telah memimpin para penyusun Kitab Suci ini untuk memasukkan Kidung Agung Salomo ini.
2. Tuhan sendiri telah berkata bahwa: Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar (II Timotius 3:16).
YESAYA
Pelayanan Yesaya terjadi selama pemerintahan raja-raja Yehuda yaitu Uzia, Yotam, Ahas Hizkia, dan Manasye (Yesaya 1:1; II Tawarikh 26:22; 32:20-23).
Kitab Yesaya ditujukan kepada seluruh dunia:
Dengarlah, hai langit, dan perhatikanlah, hai bumi, sebab Tuhan berfirman (Yesaya 1:2).
pasal 1 terpusat pada berita yang ditujukan kepada bangsa Yehuda dan kepada Yerusalem, yang merupakan kota yang telah diberi kesempatan yang paling banyak tetapi juga merupakan kota yang diberi tanggung jawab yang terbesar (perhatikan Yesaya 1;8;21;26;27).
pasal 2 - 6 dimulai dengan penglihatan mengenai hari Tuhan (Yesaya 2:11-12,17,20; 3:7,18; 4:1-2; 5:30)
dan yang juga berkaitan langsung dengan Yehuda (Yesaya 2:1,3,6; 3:1,8,16; 4:3-5; 5:3),
serta juga membahas mengenai enam ucapan celaka yang ditujukan kepada mereka yang tidak beriman (Yesaya 5:8,11,18,20-22).
Pasal-pasal ini diakhiri dengan penglihatan yang baru mengenai Raja yang kekal:
Aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang ......mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan semesta alam (Yesaya 6:1,5).
Pasal 7 - 12 terfokus kepada Israel, Kerajaan Utara, yang ibukotanya adalah Samaria.
Berita dalam fasal-fasal ini merupakan penghiburan kepada Raja Ahas yang sedang mengalami serangan oleh Kerajaan Utara dan Aram (Yesaya 7:3-16).
Pasal-pasal ini juga menubuatkan tentang hukuman yang akan menimpa Israel:
Tuhan akan mendatangkan ke atasmu dan atas rakyatmu .... hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda - yakni raja Asyur ..... Kekayaan Damsyik (ibu kota Aram) dan jarahan Samaria (ibu kota Israel) akan diangkut di depan raja Asyur (Yesaya 7:17; 8:4).
Pasal-pasal ini diakhiri dengan nubuatan mengenai pemerintahan Mesias yang akan datang:
Yang akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi (Yesaya 11:12).
Perhatian khusus juga diberikan kepada hari Tuhan (Yesaya 7:18,20-21, 23; 10:20,27; 11:10-11; 12:1,4).
Pasal 13 - 23 terfokus kepada bangsa-bangsa kafir yang ada pada masa Yesaya, terkecuali pasal 22, yang adalah lembah penglihatan (Yesaya 22:1).
Pasal-pasal ini juga menyoroti tentang hari Tuhan (Yesaya 13:6,9,13; 14:3; 17:4,7,9; 19: 16,18-19,21,23-24; 22:5,12,20,25; 23:15).
Pasal 24 - 27 menjelaskan tentang hubungan hari Tuhan dengan seluruh dunia (Yesaya 24:1,4-5,16,19-21; 25:6-9; 26:1,21; 27:1-2,12-13).
Pasal 28 - 34 terfokus kepada enam ucapan celaka mengenai Yerusalem yang mirip dengan keenam ucapan celaka dalam pasal 5.
Penekanan kembali diberikan pada hari Tuhan (Yesaya 28:5; 29:18; 30:23; 31:7).
Berita dalam pasal 34 adalah berita kepada seluruh dunia:
Baiklah bumi serta segala isinya mendengar, dunia dan segala yang terpencar dari padanya (Yesaya 34:1-2). Sebab Tuhan mendatangkan hari pembalasan dan tahun pengganjaran karena perkara Sion (Yesaya 34:8).
Pasal 35 berbicara tentang 1,000 tahun pemerintahan Kristus.
Pasal 36 - 37 menjelaskan tentang serangan terhadap Yehuda oleh Asyur, menunjukkan tentang kuasa doa, campur tangan Allah, dan kemerosotan serta kehancuran Asyur.
Pasal 38 - 39 berbicara tentang penyakit yang menimpa Hizkia, kesembuhannya yang ajaib, sambutannya yang bodoh terhadap utusan-utusan dari Babel, dan kekuatan dunia baru yang pada akhirnya akan menghancurkan mereka.
Pasal 40 - 48 menyoroti keberadaan Mesias yang kekal (Yesaya 40:12-28; 41:4, 21-29); penebusanNya yang kekal; dan keunggulanNya sebagai Hakim yang tertinggi (Yesaya 46:5,9-10; 47:4; 48:12-14,20-22).
Pasal-pasal ini diakhiri dengan perkataan ini:
Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik (Yesaya 48:22; 57:21).
Pasal 49 - 66 berisi penglihatan nabi tentang Mesias yang harus terlebih dahulu menjadi Hamba, namun pada akhirnya akan memerintah sebagai Raja yang menang (Yesaya 42:1-7; 49:5-6; 50:4-10; 52:13; 53:12).
Pasal 53 menjelaskan tentang keunggulan Mesias sebagai Anak Domba Allah yang harus menjadi pusat utama di dalam kehidupan mereka yang adalah anak-anakNya.
YEREMIA
Yeremia yang berprofesi sebagai imam memulai pelayanannya sepanjang 40 tahun sejarah Yehuda, Kerajaan Selatan.
Ini berlangsung kira-kira 100 tahun setelah bangsa Asyur menaklukkan Israel, Kerajaan Utara. Pelayanan publiknya dimulai pada tahun ke 13 pemerintahan Raja Yosia yang saleh (Yeremia 1:2), yang memerintah selama 31 tahun.
Yeremia melanjutkan pelayanannya sepanjang pemerintahan keempat raja Yehuda yang terakhir yang terkenal jahat yaitu: Salum (Yoahas), Yoyakim, Konya (Yoyakin), Zedekia, dan kepada para tawanan yang berada di Mesir. Selama masa yang sulit itu, Yeremia hanya sendirian -- dan ia dibenci bahkan dianiaya oleh umatnya sendiri.
Beberapa tahun kemudian, Kerajaan Asyur menjadi lemah dan ditaklukkan oleh bangsa Babel. Kerajaan Yehuda takluk di bawah kekuasaan Nebukadnezar setelah ia mengalahkan Mesir pada peperangan di Karkemis, kota penting di Aram sebelah utara.
Kota ini mengawal jalur utama perdagangan yang melintasi Sungai Efrat.
Serangan kedua terhadap Yehuda terjadi kembali kira-kira tujuh tahun kemudian, tepatnya pada tahun kesebelas pemerintahan Zedekia, dan pada serangan itu Yerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar dan pasukan Babel akhirnya menguasai seluruh wilayah Timur Dekat.
Peristiwa-peristiwa dalam kitab ini tidak tersusun secara kronologis, melainkan menurut pokok pembicaraan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman rohani yang terbaik bagi kita.
Pasal 1 memperkenalkan tentang Yeremia dan panggilan Allah kepadanya sebagai nabi.
Pasal 2 - 38 adalah nubuatan-nubuatan yang terjadi sebelum kejatuhan Yerusalem, yang dimulai pada zaman raja Yosia (Yeremia 3:6).
Allah telah menetapkan Yeremia menjadi nabi bagi bangsa-bangsa (Yeremia 1:5) ketika para nabi bernubuat palsu dan para imam mengajar dengan sewenang-wenang (Yeremia 5:31).
Hal yang lebih buruk lagi adalah bahwa Allah mengatakan bahwa umatKu senang melakukan hal demikian.
Sesungguhnya dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, senantiasa mengejar untung (Yeremia 6:13).
(Perhatikan: Pasyhur dalam pasal 20 tidak sama dengan Pasyhur bin Malkia dalam Yeremia 21:1; 38:1).
Yeremia mengecam keempat raja Yehuda yang terakhir sebagai gembala-gembala palsu (Yeremia 23:1-2; 25:34).
Ia juga mengecam nabi-nabi palsu (Yeremia 23:9) dan imam-imam palsu (Yeremia 23:11).
Pasal 29 - 30 ditujukan kepada kelompok tawanan pertama yang telah diangkut dari Yehuda ke Babel beberapa tahun sebelum kehancuran Yehuda yang terakhir:
Sebab sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umatKu Israel dan Yehuda .... Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan (Yeremia 30:3).
Pasal 31 - 33 menjelaskan tentang Kerajaan Mesias dan Perjanjian yang akan datang.
Pasal 34 - 38 membahas tentang peringatan-peringatan yang disampaikan kepada Zedekia, sikap Yoyakim yang menentang Firman Allah, pengepungan Yerusalem, dan pemenjaraan Yeremia.
Pasal 39 membahas tentang kehancuran Yerusalem, penawanan Zedekia, dan kelepasan Yeremia dari penjara.
Pasal 40 - 44 berisi berita kepada orang-orang Israel setelah kehancuran Yerusalem -- pertama di Yehuda (Yeremia 40 - 42) dan kemudian di Mesir (Yeremia 43 - 44).
Pasal 45 membahas khusus tentang Barukh, sekretaris Yeremia.
Pasal 46 - 51 berisi nubuatan-nubuatan mengenai bangsa-bangsa kafir.
Pasal 52 menguraikan tentang kejatuhan Yerusalem dan Yehuda dan berita kepada Zedekia.
Allah menjelaskan tentang alasan di balik kehancuran Kerajaan Yehuda dan Yerusalem, ibu kotanya yang tadinya sangat megah, dengan berkata:
Karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar maka Aku telah melakukan semuanya ini kepadamu (Yeremia 30:15).
Walaupun pemberitaan Yeremia menubuatkan tentang hukuman yang tak terhindari, ia juga mengatakan: Masih ada harapan untuk hari depanmu (Yeremia 31:17), karena Allah akan memperhatikan mereka yang bertobat dan berbalik kepadaNya (Yeremia 31:19).
Allah yang penuh kasih karunia berjanji:
Aku akan membangun engkau kembali ....Dengan menangis mereka akan datang .... Dengarlah firman Tuhan ....Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka ... dan mereka akan menjadi umatKu (Yeremia 31:4,9-10,33).
RATAPAN
Nabi Yeremia dengan giat dan setia berusaha memperingatkan orang-orang Israel bahwa penderitaan yang dahsyat akan terjadi apabila mereka terus bersikap tidak mengindahkan Firman Allah.
Karena hanya Tuhanlah yang dapat menuntun kehidupan mereka menuju kemakmuran, keamanan, dan perdamaian dengan Allah. Kitab Ratapan merupakan ungkapan dukacita yang dalam atas kehancuran Kerajaan Yehuda dan kota Yerusalem.
Yeremia mengetahui konsekuensi yang tak terhindari dari sikap ketidaktaatan, sungguh Tuhan membuatnya merana, karena banyak pelanggarannya;
kanak-kanaknya berjalan di depan lawan sebagai tawanan ....Hal itu terjadi oleh sebab dosa nabi-nabinya dan kedurjanaan imam-imamnya ..... Mereka terhuyung-huyung seperti orang buta di jalan-jalan, cemar oleh darah sehingga orang tak dapat menyentuh pakaian mereka (Ratapan 1:5; 4:13-14).
Orang-orang Israel tidak mau menyadari akan bahaya kehancuran yang telah berada di ambang pintu karena selama kira-kira 475 tahun mereka telah berhasil luput dari banyak serangan musuh.
Mereka percaya akan jaminan keamanan mereka karena mereka yakin tembok yang mengelilingi kota kudus itu dapat melindungi umat perjanjian Allah, Bait SuciNya, dan Tabut Perjanjian yang berisi hukum-hukum yang telah diberikan kepada Musa beberapa abad sebelumnya.
Nabi-nabi palsu yang populer pada masa Yeremia dengan berani memberitakan jaminan perlindungan dan keamanan kekal bagi Yerusalem karena mereka yakin bangsa Israel adalah umat perjanjian Allah.
Yerusalem adalah satu-satunya tempat di muka bumi ini di mana korban-korban yang berkenan dapat dipersembahkan kepada Allah.
Fakta ini lebih meningkatkan jaminan palsu bagi mereka bahwa Yerusalem, Kota Raja Besar tidak akan pernah dapat dihancurkan (Mazmur 48:2).
Namun Yerusalem terancam bahaya kehilangan berkat, ditimpa penyakit, penderitaan, kelaparan dan kehancuran Bait Suci mereka sebagai akibat dari sikap mereka yang tidak mengindahkan Firman Allah (Ratapan 2:19-22; 4:8-10).
Lebih dari tiga puluh kali dalam lima pasal yang singkat ini kita diingatkan bahwa Tuhan Allah itulah - bukan bangsa yang lebih perkasa yang telah menghukum dan membantai .....Tuhan telah melepaskan segenap amarahNya, mencurahkan murkaNya yang menyala-nyala, dan menyalakan api di Sion, yang memakan dasar-dasarnya (Ratapan 3:43; 4:11).
Kehancuran oleh Tuhan sendiri telah dinubuatkan oleh Musa dan Salomo dalam doanya yang terkenal, sehingga tidak diragukan lagi apa yang sebenarnya telah menjadi penyebab kehancuran kerajaan mereka (Ulangan 28:63-65; II Tawarikh 6:36).
Nabi Yeremia juga memandang jauh ke depan dan menubuatkan saatnya ketika umat Israel akan kembali kepada Allah: Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.
Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setiaNya .... Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan (Ratapan 3:31-32,40; bandingkan Ratapan 4:22).
Langganan:
Postingan (Atom)






